|
Written by Mundir Ikhsan
|
|
Jumat, 19 November 2010 22:40 |
|
Tuan, bila mataku merah mungkin telah ku teguk sebotol Topi Miring dan memaksa langit menjadi permadani pusat jidatku menelikung sorga, semua kota menyunyi di ketiak bait hampaku yang tak setajam ilalang dan tak semerdu gesekannya yang runyam.
Aku selipkan sekerat hati pada kail pancing, ku lemparkan persis ditengah tungkak langit, siapa nyana kelopak mataku telah raib dimamah risau, kini Tuan, tak mampu ku melihat wajah langitmu dan menertawakan sebiji matamu.
Ah, mungkin dari arah tenggara lukaku akan tiba lantas bertikai melawan gerombolan maut lalu bara api yang menggoyang panggung pestaku akan musnah, musnah seperti sejarah yang hanya membekas lemah di genangan darah. Cairo, 5 november 2010
|