|
Written by Pameta Sabila
|
|
Jumat, 03 Desember 2010 12:43 |
|
(sajak untuk Merapi)
Saat ini di tempat dimana aku berpijak Tanah tertutup abu Langit tak sebiru dulu Mentari seolah tlah pergi Sinarnya yang hangat kini redup tertutup awan kelabu yang menyulut tajam Menorehkan luka di sekujur perihnya ibu pertiwi kini Anak bangsa terbujur kaku menahan pilu Berharap 'lekaslah berakhir, keluargaku...rumahku..sekolahku...' berbagai Rintihan menyeluap diantara tebalnya abu Kegelisahan tergurat jelas di antara seruan gemuruh sang Merapi Keperkasaannya berubah menjadi keganasan seolah amukannya kan menyeruap hebat menerjang kekonyolan di belahan bumi pertiwi 'Komohon jangan,cobaan ini sudah cukup pedih untukku.." Lukamu lukaku juga kawan.. Di tempat itu Ratusan bahkan ribuan orang mengumpat di antara derasnya hujan Hujan? sama halnya seperti mentari Hujan bahkan tak lagi menerjang seperti dulu Hujan kini berubah menjadi titik-titik putih keabuan yang menyesakkan dada Ia mungkin mengembara ke belahan dimensi lain Dan kuharap dia cepat kembali di tempatku berpijak Tak ada yang menginginkan Tak ada pula yang terdosakan hanya sebuah ujian dari seluruh untaian kehidupan namun tak serta merta kita merendahkan Tak perlu berlarut meratap Tak perlu pergi jauh dari tanah kita berpijak Berbangkitlah..berdoalah..bantulah.. Walau kini sang mentari mungkin masih belum enggan tuk kembali Jangan segan tuk berbagi Duka dan ujian ini milik kita bersama Jangan menciut apalagi menyerah sembari menengadah ke atas Kita menanti secercah sinar hangatnya yang seperti dulu
Yogyakarta, 11 November 2010
|