B a y i PDF Print E-mail
Written by Tilarso   
Sabtu, 29 Januari 2011 08:08

Seorang bayi telah pernah lahir sesaat selepas bapaknya menghembuskan nafas terakhir. Namun ia tak perlu khawatir memulai hidup saat tata norma berada di ujung hunus amarah dan di kedangkalan pikir. Mengekor saja kemana arah bergulung ombak dan berhembus angin yang kencang mengalir. Pada akhirnya namanya sebagai pembawa para bimbang langkah akan terukir.

Seorang bayi telah pernah duduk sebagai kusir dan terbata menghela kekang kuda sehingga kereta tak tentu arah. Beras tiba-tiba jadi barang mewah padahal sebelumnya melimpah. Raib pula sebidang tanah tempat banyak darah telah tertumpah atas nama azasi. Lalu kerukunan pelan-pelan mulai terbelah. Setiap tawa terdengar lebih terbahak dan setiap lidah tak lagi canggung berteriak.

Seorang bayi telah pernah melonggarkan rongga-rongga sempit dan yang tertutup rapat. Membebaskan yang puluhan tahun tertahan lalu mengalir deras memenuhi setiap ruang mengusir toleransi. Setiap pendapat merasa paling benar dan selalu ingin harus didengar lalu nyawa menjadi tak berarti. Di ujung kebuntuan sering didapati rumah-rumah yang ludes dibakar juga tubuh-tubuh yang terkapar.

Beberapa orang bayi telah pernah menggiring ribuan bayi merangkak ke satu negeri sehingga negeri itu terselimuti aura bayi. Lalu perlahan setiap penduduk berubah bayi…

 

Sept 1998 - Sept 2010

 

Comments  

 
0 #1 Tilarso 2011-01-29 19:23
terimakasih untuk redaksi yang telah meloloskan puisi saya ini :-)

ini puisi ke-2 saya di sini
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh