| WAHID |
|
|
|
| Written by REDAKSI |
| Selasa, 09 November 2010 00:28 |
|
Ia juga nomor wahid dalam keberanian dan berpikir radikal. Selera humor, keberanian, dan pemikiran radikalnya itu menyatu dalam pendapat dan laku, hingga seringkali “ulah-nya” kurang dapat dipahami oleh halayak ramai. Dengan berani ia mengembalikan tentara ke barak dan membubarkan ABRI, serta menyerahkan urusan keamanan hanya ke Polisi. Banyak tentara yang berang tentunya, sebab uang dapur dari menjaga keamanan memang menggiurkan. Pada masa ABRI, tentara memiliki ruang untuk jadi “anjing gonggong” di perusahaan-perusahaan kaya. Gus Dur memangkas peran tentara dalam keamanan itu. Karena itulah, pada masa Gus Dur, perang antara tentara dan polisi sering berkobar karena rebutan lahan. Tetapi meskipun bukan seorang Hercules, Gus Dur menyikapi berangnya tentara dengan humor. Ia “memecat” Panglima TNI Wiranto dari luar negeri, dan memberikan kedudukan itu kepada Widodo AS dari Angkatan Laut. Inilah untuk kali pertama Panglima TNI dijabat bukan oleh Angkatan Darat. Pada mulanya ia seorang ulama dan cendekiawan, pengamat sepakbola dan politikus non-partai. Namun kemudian ia terjun ke dalam kancah politik praktis dengan mendirikan PKB. Tentu ia menyadari bahwa hukum politik praktis adalah hommoni lupus (saling memangsa) dengan prinsip “tiada kawan atau lawan abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan abadi.” Ketua MPR kala itu, semula adalah kawan sejawat, namun kemudian menjadi seteru paling seru dalam politik praktis. Dia yang mengangkat, dia pula yang menjatuhkan. Sebab memasuki wilayah praktis itulah, praktis pula ia menerima pendukung baru sekaligus penentang baru. Jumlah pendukung dan penentang mungkin sama banyaknya. Tapi kini, ketika ia berlalu di hari yang baik, para penentangnya pun akan mengenangkan kebaikannya. Sebab toh, ia sudah berjasa dalam meletakkan urusan-urusan nomor wahid pada posisinya yang paling make sense (masuk akal). Dan untuk itu, ia tidak peduli dicap sebagai komunis, bahkan diberi label kafir, hanya kerena misalnya mau mencabut TAP MPRS nomor 25 tahun 1966 tentang pelarangan PKI. Bagi kaum bigot (pengikut fanatis), Gus Dur kelewat agung, hingga bukan saja diberi kedudukan nomor wahid, melainkan sebagai waliyullah. Sesungguhnya, setiap insan adalah wali, setidaknya bagi dirinya sendiri. Tapi bagi kaum minoritas pemeluk Konghucu atau anggota keluarga korban tragedi 1965 misalnya, Gus Dur benar-benar wali nomor wahid. Ia berpulang di hari yang baik, diiringi gerimis yang ritmis, dan menutup terbitnya surat kabar harian di tahun 2009. Hari Kamis, semua koran akan menumpahkan laporannya, sekaligus menutup kleidoskop 2009, sebab esoknya (Jumat) umumnya koran harian tidak terbit. Lalu para peziarah memiliki waktu luang untuk berdoa di gigir kuburnya, sebab ia pulang di masa long holiday. Selamat jalan Gus Dur. Moga pahala-mu dilipatgandakan oleh para pendoa-mu. [redaksi] |




