|
Bahasa bisa menghasilkan devisa, tapi juga bisa menyedot devisa. Bila dikapitalisasi dengan sungguh-sungguh, bahasa bisa mendatangkan devisa yang signifikan. Mari kita lihat bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional, yang menjadi bahasa resmi untuk pengantar dalam berbagai aktivitas Persatuan Bangsa-bangsa. Semua bangsa akhirnya harus belajar bahasa Inggris bila ingin bisa bergaul secara mudah di tingkat internasional. Karena harus belajar, maka harus mengeluarkan uang. Meskipun harus mengeluarkan uang, karena perlu belajar bahasa Inggris, maka seluruh negara di dunia, membuka jurusan bahasa Inggris di perguruan tinggi. Sudah dapat dibaca, dengan adanya perguruan tinggi yang membuka pelajaran bahasa Inggris, maka terjadi perputaran uang.
Lalu Inggris mengeluarkan standar bahasa yang disebut dengan TOFL. Untuk memperoleh sertifikat TOFL, seseorang harus mengukuti ujian, dan supaya lulus ujian TOEFL seseorang harus belajar bahasa Inggris dengan benar menurut gramatika standar yang dikeluarkan oleh Inggris. Lembaga apapun berhak menyelengagrakan kursus bahasa Inggris dan menyelenggarakan ujian TOEFL. Tapi bila ingin mendapatkan legalisasi sebagai penyelenggara ujian TOEFL dan mengeluarkan sertifikatnya, lembaga itu harus membayar royalti, dan tentu ke pusat bahasa Inggris. Devisa mengalir dari berbagai negara ke Inggris.
Semestinya bahasa Indonesia bisa dikapitalisasi untuk tingkat Asia Tenggara, sebab pengguna bahasa Indonesia cukup besar, menempati urutan keenam di dunia. Bahkan bila bahasa Indonesia bisa dipolitisasi menjadi bahasa pergaulan di Asia Tenggara, tentu jumlah pengguna bahasa Indonesia akan bertambah. Negara-negara ASEAN akan memandang perlu belajar bahasa Indonesia standar menurut Pusat Bahasa. Untuk mengeluarkan sertifikat standar bahasa Indonesia itu, negara-negara ASEAN harus mengirimkan devisa ke Indonesia.
Adalah masuk akal bila Pemerintah berjuang mempolitisasi bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaualan di ASEAN. Ada dua alasan kuat untuk saat ini. Pertama, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu, akan mudah dipelajari oleh negara-negara pengguna bahasa Melayu seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan sedikit orang Thailand. Posisi Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN, dan dengan tingkat penguasaan bahasa Indonesia mencapai 90% dari jumlah penduduk Indonesia, adalah potensi yang tidak tertandingi oleh negara-negara ASEAN lainnya. Soalnya adalah tinggal kemauan dan kesadaran pemerintah.
Lalu, di era perdagangan reatil seperti sekarang ini, jumlah penduduk yang besar adalah potensi pangsa pasar bagi produsen-produsen yang mengeluarkan produk retail seperti handphone. Untuk memasarkan handphone di Indonesia, mau tidak mau, para produsen itu harus mempelajari bahasa Indonesia. Maka bisa dipahami bila di beberapa negara seperti di China, jurusan bahasa Indonesia kembali dibuka di beberapa perguruan tinggi. Mereka menilai Indonesia adalah pasar potensial yang harus ditaklukan. Untuk bisa menaklukan pasar itu, harus menguasai bahasanya. Semestinya peluang ini disambut dan dikapitalisasi dengan sungguh-sungguh.
Negara-negara berpenduduk banyak seperti China, Rusia, India, jazirah Arabia, memiliki potensi besar untuk bisa mengkapitalisasi bahasa menjadi mesin devisa.
|