| SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN! |
|
|
|
| Written by Nurani Soyomukti | ||||
| Selasa, 30 November 2010 19:18 | ||||
Page 1 of 2 [Catatan Nurani Soyomukti, peserta Arisan Sastra Bulanan dan Ketua Quantum Litera Center/QLC—Lembaga Pemberdayaan Keberaksaraan] Tidak sedikit sastrawan yang mabuk keindahan. mereka terjebak pada “imperium keindahan”—dan lupa bahwa persoalan sastra adalam masalah humanisme: Sastra-Humaniora! Karenanya sastra(wan) harus punya nyali untuk bicara pada kemanusiaan. Kemanusiaan, dan bukan hanya keindahan dan permainan katakata, adalah kunci dari kegiatan kesusastraan. Masalahnya, jika persoalan sastra harus lebih ditekankan pada keindahan, mengapa penghargaan sastra (seperti Nobel Sastra) selalu saja diberikan pada sastrawan yang bicara banyak hal dan mengeluarkan pandangannya—yang penuh nilai dan berpihak—tentang manusia, masyarakat, dan sejarah? Apakah sejarah dan manusia berada di wilayah objektif (ada dan independen) atau hanya harus dibiarkan berada dalam pikiran dan pemaknaan orang, terutama sastrawan? Kalau keindahan itu relatif dan tidak bisa diuniversalkan (dinilai dengan patokan tertentu), mengapa masih saja ada pemilihan tentang karya sastra (atau bahkan film, musik, dan produk-produk estetis) yang terbaik? Berarti keindahan memang tidak pernah hanya mendekam dalam benak, tetapi juga selalu bersenyawa dengan realitas material, wacana yang diangkat oleh media yang sifatnya material, dan tentunya bersenyawa dalam dunia kenyataan yang dapat diukur.
|





