|
Wawancara dengan Hauw Ming, Ketua Asosiasi Pecinta Seni Indonesia (ASPI)
EKSISTENSI karya seni, aliran apapun, ikut diasah kilapnya oleh para apresiatornya, para penggemarnya, para pengagumnya. Karya seni tanpa pengagum, tanpa apresiator, perlahan akan hilang dari peredaran, tidak dikenang, lalu dilupakan. Kebesaran eksistensi seniman atau karya seni, memang bisa dikatrol, di-create hingga menjadi sentripugal, sekaligus bisa diruntuhkan.
Dalam dunia seni rupa, peranan para pecinta seni teramat penting. Disebut penting, karena posisi para pecinta seni, atau kolektor untuk istilah khusus dalam seni rupa, ikut menentukan apakah eksistensi sang seniman akan makin berkilauan atau malah susut seperti mateor jatuh. Sudah banyak contohnya, seniman kemarin sore tiba-tiba eksistensinya kinclong seperti bintang kejora, namun esoknya, pudar ditelan bintang yang lain. Tentu hal ini sifatnmya tidak absolut, sebab ada seniman-seniman jenial yang tidak tergoyahkan.
Bagaimana pandangan dan sikap seorang pecinta seni ketika berhadapan dengan situasi seni rupa saat ini? Peranan apa yang mereka mainkan. Pendapat Hauw Ming selaku Ketua Asosiasi Pecinta Seni Indonesia (ASPI) bisa dijadikan salah satu referensi. ASPI didirikan oleh tiga belas orang pada 28 April 2006, di Jakarta.
Kita juga perlu mendengar, seperti apa peranan ASPI dalam membangun eksistensi dunia seni, juga dalam membangun daya apresiasi calon-calon pecinta seni lainnya. Berikut petikan perbincangannya.
Bagaimana awal mula Anda mencintai karya seni rupa? Terus terang, saya kecebur. Pada awalnya, saya kan bisnis di barang-barang antik. Gudang saya saat itu sudah terlalu penuh. Lalu saya usulkan ke isteri untuk memajang barang-barang antik itu di ruangan. Kalau ditaruh di gudang, mula-mula akan kotor, lama-lama akan rusak. Maka mulailah dipajang benda-benda itu di ruangan. Setelah saya perhatikan, kok ada yang kurang. Ruangannya terisi oleh furnitur, tapi dinding-dindingnya kosong. Mulailah berpikir untuk menghiasi dinding dengan lukisan atau sejenisnya. Saya mulai membeli lukisan.
Lukisan baru atau old master? Saya kaget, lihat harga lukisan waktu itu sudah terasa mahal. Apalagi yang old master, harganya puluhan bahkan ratusan juta. Pelukis kelas menengah, harganya antara Rp2 – 5 juta. Itu mahal sekali. Lalu saya pergi ke Pasar Seni Ancol. Saya lihat di sana, harga lukisan murah-murah. Kita bisa pesan lukisan portrait dengan Rp150.000. Saya mulai hiasi dinding dengan lukisan-lukisan dari Pasar Seni Ancol.
Selanjutnya? Seorang mantan teman sekolah saya di SMA, berkunjung ke rumah saya. Dia melihat lukisan-lukisan di dinding. Dia bilang, kok enggak ada lukisan dari pelukis terkenal? Lalu dia menyarankan saya untuk mulai mengoleksi lukisan-lukisan karya seniman ternama. Dia bilang, mengoleksi lukisan itu ada nilai investasinya kalau dari seniman ternama.
Saya mulai melihat-lihat lukisan dari seniman ternama yang disebut teman saya itu. Dia memberi saya beberapa katalog. Saya mulai nonton pameran di galeri, dan nonton aktivitas di balai lelang. Di balai lelang, saya nge-bid lukisan drawing karya Barli Sasmitawinata sekitar Rp4 juta. Itulah karya dari seniman ternama yang pertama kali saya koleksi. Malamnya saya susah tidur. Kira-kira, kalau saya sudah kurang suka sama karya itu, apa bisa dijual lagi? Kalau di barang antik, saya beli memang untuk dijual lagi. Tapi sampai sekarang, lukisan itu masih ada. Saya pajang, saya menyukainya.
Lalu? Sejak itu, saya makin sering menonton pameran di galeri dan melihat lelang. Kenalan pecinta seni makin banyak. Kita mulai sharing tentang lukisan yang berkualitas itu seperti apa. Saya juga mulai membangun kenalan dengan seniman, kurator, dan elemen-elemen lain yang berkaitan dengan seni rupa, termasuk dengan wartawan tentunya.
Perkenalan dengan para pecinta seni itu, akhirnya sampai pada perbincangan perlunya didirikan asosiasi para pecinta seni. Maka pada 28 April 2006, Asosiasi Pecinta Seni Indonesia yang disingkat jadi ASPI, didirikan, dan saya ditunjuk menjadi Ketua.
Anda tadi menyebut karya yang berkualitas, bagaimana Anda mengukurnya? Pada mulanya, melihat kualitas itu ditentukan oleh taste (selera). Setiap orang seleranya tentu berbeda-beda. Karena itu, ada lukisan yang bagus dan berkualitas menurut saya, menurut yang lain kurang bagus. Selera seseorang ditentukan oleh tingkat pendidikan dan pergaulannya. Saya termasuk tidak percaya ada selera yang tinggi dan selera yang rendah. Dengan demikian, tidak ada high art dan low art. Yang ada adalah cita rasa kelas secara ekonomi dan sosial. Misalnya kelas ekonomi dan sosial atas, cenderung menyukai jazz atau musik klasik, sedangkan kelas ekonomi bawah cenderung menyukaui dangdut atau pop. Ini bukan berarti musik klasik adalah high art atau dangdut adalah low art.
Perlu diingat, musik jazz yang sekarang menjadi cita rasa kelas atas, itu sebenarnya musik kaum budak yang didatangkan dari Afrika ke Amerika. Tapi jazz bisa diterima di kelas atas, dan akhirnya jadi musik kelas atas. Sekarang, perjuangan seniman dan para pecinta seni itu adalah bagaimana karya yang ada bisa diterima oleh semua kelas. Bila ingin dianggap sebagai kelas atas atau high art, yah harus diperjuangkan bisa diterima oleh kelas atas secara ekslusif.
Jika demikian, tidak ada parameter yang pasti untuk mengukur kualitas karya? Secara teknis dan akademis, kualitas karya seni tentu bisa diukur dengan metode akademis. Saya kira, itu adalah tugas para kurator dan para akademisi untuk mengukurnya. Jangan salah, banyak karya seni yang secara metodis dan akademis itu sangat berkualitas, pekat dan sublime, tapi kurang diterima atau kurang disukai oleh para pecinta seni.
Berarti, banyak pecinta seni yang membeli karya yang kurang berkualitas secara metodis-akademis? Kenyataannya memang banyak yang begitu. Tapi tidak semua.
 Menurut Anda sendiri, yang berkualitas itu seperti apa? Saya menyukai karya seni yang kalau saya lihat, atau kalau saya dengar, itu terasa ada greng di dalamnya. Kalau orang Bali bilang, ada taksu yang memancar, ada aura yang hidup. Saya mau ambil contoh di bidang lain. Itu Rendra kalau baca puisi, ada emosi yang meluap-luap. Greng atau emosi itu kadarnya berbeda-beda pada setiap karya seni. Semakin tinggi greng-nya yang terasa oleh saya, maka saya katakana karya itu semakin berkualitas.
Kedua, karya seni itu harus cerdas, dan itu pasti diciptakan oleh seniman cerdas juga. Saya ingin ambil contoh karya-karya Teguh Ostenrik. Sampai sekarang, saya kurang suka lukisan Teguh. Padahal lukisannya itu berkualitas. Patung atau instalasi Teguh Ostenrik itu “gila” dan sangat cerdas. Saya pernah sampaikan ke salah seorang kolektor, itu karya Teguh Ostenrik sangat cerdas. Dia tidak setuju. Tapi setelah dia melihat-lihat karya Teguh pada beberapa pameran, terutama yang dipamerkan di Arsip Nasional, dia bilang, kau benar, karya Teguh memang gila.
Ada yang berpendapat, makin tinggi harga lukisan, makin berkualitas? Hahahaha…. silakan saja berpendapat seperti itu. Bagi para pedagang atau spekulan, tujuan memasuki karya seni kan memang untuk mencari keuntungan. Motifnya ekonomi, bukan estetika. Tentu saja, bagi para pedagang, mana yang paling menguntungkan, itulah yang paling berkualitas.
Anda juga kan pedagang? Saya tidak dagang lukisan. Barang antik iya, itupun sudah jarang. Saya tidak berdagang dalam artian, saya tidak menawar-nawarkan lukisan. Tapi bila ada koleksi kita yang disukai orang dan dia berminat, apa salahnya kita menularkan apresiasi kepada orang lain. Misalkan Anda suka sebuah lagu, dan Anda ingin memilikinya, Anda kan pasti cari ke toko kaset atau CD/VCD, DVD. Kalau tidak menemukannya di toko, tapi Anda tahu seseorang memilikinya, Anda akan berusaha meng-copy musik tersebut. Kalau di seni rupa, kan sifatnya ekslusif, tentu bukan copy-an yang ingin dimiliki, tapi aslinya.
Berari Anda bisa mendapat keuntungan dari situ? Dalam soal ini, saya sependapat dengan Oei Hong Djien. Dia bilang, bila kita mengoleksi karya seni, itu harus berasal dari rasa suka, rasa cinta, bukan karena harga. Tapi bila suatu hari karya yang kita koleksi itu harganya jadi mahal, maka itu adalah bonus bagi kita.
Pedagang barang antik itu sering dicurigai sebagai pihak yang mengedarkan lukisan palsu. Menurut Anda? Saya dengan Amir Sidharta (pemilik Sidharta’s Auction), pernah terpikir membuat museum lukisan-lukisan palsu, kenapa dan buat apa? Supaya kita semua, terutama para kolektor menjadi tahu, seperti apa lukisan palsu itu. Kita tahu yang asli karena bisa membedakannya dari yang palsu. Anda tahu kebaikan sebab Anda tahu keburukan itu seperti apa. Barangkali tudingan itu ada benarnya, sebab ada kasusnya. Tapi tentu tidak semua seperti itu.
Peranan Aspi seperti apa? ASPI itu berperan aktif di belakang. Banyak yang mengusulkan supaya mengadakan seminar atau pelatihan membaca kualiatas karya seni untuk para pecinta seni. Di situ sisi itu bagus. Di sisi lain ada ketakutan, kalau pecinta seni jadi pintar, nanti malah “minterin” seniman dan orang lain.
Mengapa ada ketakutan seperti itu? Terus terang, saya bertekad bukan membuat orang jadi pintar, tapi membuat orang jadi bijak dalam menghadapi berbagai persoalan. Sebetulnya banyak orang pintar, tapi jadi “keblinger” karena tidak wise. Sikap bijak itu sejalan dengan kejujuran. Kenyataannya, kita berhadapan dengan berbagai karakter orang, yang di antaranya banyak yang tidak jujur. Adanya gorong-menggoreng karya hingga gosong, dan adanya seniman yang jadi korban atau pecinta seni yang merasa terkibuli, adalah fakta yang menegaskan adanya orang-orang yang tidak jujur bermain dalam seni rupa. Nah, kalau ASPI mengadakan pelatihan atau seminar supaya membuat pecinta seni jadi pintar, hawatir nanti malah minterin orang.
Pernan kongkret ASPI saat ini apa? sebutkan contohnya. Saya bilang tadi, peranan ASPI itu di belakang layar. Misalnya acara Jogja Art Fair, di situ ASPI berperan ikut meyakinkan sponsor untuk mendukung. Beberapa seniman atau pegiat seni yang kesulitan dalam menyelesaikan administrasi, yah kita bantu. Lalu ikut berperan dalam penyelenggaraan pameran dan pembuatan buku untuk Nashar yang dikerjakan oleh Emmitan di Surabaya. Pak Hendro Tan hampir nyerah waktu itu, karena terbayang kerugian yang akan dicapai bisa sampai Rp400 juta. ASPI ikut membantu, mencari sponsor yang bersedia membantu. Acara untuk Nashar itu terlaksana, dan kerugian tidak sebesar yang dibayangkan karena ada beberapa pihak yang ikut membantu.
Jadi ASPI tidak ompong seperti yang sering diomongkan orang-orang? Orang boleh bilang apapun. Terserah. Untuk saat ini, kami berperan di belakang layar. Terus terang, ASPI termasuk mempromosikan majalah-majalah seperti Arti, Visual Art, C Arts. Kami sampaikan kepada para pecinta seni, supaya berlangganan majalah-majalah tersebut, sebab kita membutuhkan kehadirannya. Kalau mereka sampai tutup, tentu mereka rugi, tapi secara pribadi saya juga ikut rugi. Kenapa? Sebab semua elemen yang mendukung seni rupa, itu dibutuhkan, dan semuanya harus memiliki kondisi yang bagus. Pada kehidupan ini, kita saling membutuhkan. Karena itu, kita harus saling memberi dan menerima. Tidak mungkin hanya galeri atau balai lelang saja yang hidup dan makmur. Semua elemen harus hidup dengan sehat.
Ada contoh lain? Sekarang, saya sebagai Ketua ASPI sering diundang oleh Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda –red). Mereka selalu menghadirikan musisi ke dalam Jak Jazz. Tapi sambil mengikuti Jak Jazz, para seniman Jazz Belanda yang didatangkan oleh Erasmus Huis itu, biasanya di-roadshow kan ke beberapa kota besar seperti Surabaya, Bandung, Yogya. Saya usulkan ke mereka, kalau jazz hanya dihadirkan di kalangan terbatas, di kota-kota besar, itu tidak akan menambah jumlah apresiator, dan rasanya kurang adil kalau jazz tidak diperdengarkan di halayak ramai, apalagi kalau kita lihat latar sejarahnya, jazz itu kan musik yang dilahirkan oleh budak. Lalu mereka nanya ke saya, harus tampil di mana? Saya usulkan untuk mencoba kolaborasi dengan musisi gambang kromong di Tangerang. Maka dicobalah pertunjukan kolaboratif. Hasilnya luar biasa, semua pihak ternyata dapat menikmati musik kolaboratif itu, dan memberikan aplaus yang panjang.
Wawancara ini pernah dimuat di almarhum Majalah Arti

|