|
Teks dan foto DODDI AHMAD FAUJI
Selaras dengan perjalanan waktu, selera terkadang berubah.
Seseorang memutuskan jadi kolektor berlatar motif yang berda-beda. Ada yang berangkat dari sebagai pecinta seni, tapi tidak sedikit yang menjadi kolektor karena memiliki jiwa niaga yang tinggi. Dan karya seni rupa, khususnya lukisan, adalah produk kesenian yang paling menggiurkan untuk perniagaan. Haryono Budiono, Direktur pada PT. Dian Tarunaguna yang menjadi distributor Shiseido Cosmetic (keluaran Jepang), Senin (2/11/2009) siang, menuturkan latar belakang dan kiatnya sebagai kolektor.
Sekira tahun 80-an, ia sering ditugaskan ke Jepang, Eropa, China, dan Singapura. Waktu datang ke hotel, selalu ada buku agenda acara, dari mulai konser hingga pameran. “Lama-lama saya penasaran, maka saya mulai coba menonton pameran. Dan makin sering nonton pameran, mulai senang, merasa melihat sesuatu yang baru,” kata mantan Product Manager PT. Triple Ace Crop (1981-1982) itu.
Dekade 80-an, di Eropa dan Amerika, dunia seni rupa sedang marak dengan karya kontemporer. Semangat kontemporer itu merembet ke China, Jepang, India, Korea, dan akhirnya ke Indonesia. “Saya bandingkan, ternyata pelukis Indonesia tidak kalah. Dan yang menarik bagi saya, harganya masih murah, terjangkau. Maka tahun 2006, saya mulai mengoleksi lukisan-lukisan kontempoer.”
Lukisan old master, katanya, terbatas senimannya. Mereka terkenal dan harganya mahal. Juga banyak yang memalsukan. Para kolektor sering ketakutan kalau membeli karya old Master. Jangan-jangan mereka membeli yang palsu. Apalagi bila senimannya sudah meninggal, tambah sulit membedakan mana yang asli dan palsu.
Kalau di luar negeri, ada badan bertanggung jawab dan dapat melakukan verifikasi keaslian sebuah lukisan, bahkan bisa mengeluarkan provenance (perjalanan) sebuah karya. Badan ini bisa mengeluarkan track record dan portopolio seniman. Badan ini didukung pemerintah. Di sini, lembaga itu belum ada. Ini menyulitkan orang.
“Atas dasar itulah, saya beralih ke kontemporer. Selain senimannya banyak dan masih hidup, gayanya variatif. Ide-idenya segar. Eksplorasi tema dan bentuk makin luas dan jauh.”
Haryono menuturkan, saat menikmati karya seni, pertama sekali yang muncul adalah perasaan daya hidup. Takjub atas pilihan warna, bentuk, atau ide yang terasa menyegarkan. “Di Asia Tenggara, hingga 70%, lukisan kontemporer dikuasai pelukis Indonesia. Dan lukisan kontemporer karya seniman Indonesia, yang harganya mulai mahal-mahal, dikoleksi oleh orang Indonesia sendiri. Jadi kita bisa berbangga, lukisan bangsa kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.”
Bagi Haryono, pertama sekali adalah rasa suka saat melihat sebuah lukisan. Kedua, disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Ketiga, selaras dengan perjalanan waktu, selera akan berubah. Apa yang dulu disukai, menjadi kurang disukai lagi ketika melihat karya-karya lain yang lebih menyegarkan. “Nah, para kolektor biasanya ingin melakukan upgrading koleksinya. Karya yang sudah kurang disukai, mulai dijual untuk ditukar dengan karya baru. Syukur-syukur kalau karya yang hendak dijual itu jadi mahal, dan kita bisa memiliki karya lain lagi.”
Bagi Haryono, pertama sekali adalah rasa suka saat melihat sebuah lukisan. Kedua, disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Ketiga, selaras dengan perjalanan waktu, selera akan berubah. Apa yang dulu disukai, menjadi kurang disukai lagi ketika melihat karya-karya lain yang lebih menyegarkan. “Nah, para kolektor biasanya ingin melakukan upgrading koleksinya. Karya yang sudah kurang disukai, mulai dijual untuk ditukar dengan karya baru. Syukur-syukur kalau karya yang hendak dijual itu jadi mahal, dan kita bisa memiliki karya lain lagi.”
Adalah fakta, bahwa para kolektor itu berbeda-beda tipe. Ada kolektor yang sekaligus menjadi investor. Ada pedagang atau sering disebut “kolekdol” namun mengaku sebagai kolektor. Ada spekulan, tapi sering pula disebut kolektor. Menurut Haryono, saat ini, kolektor yang benarbenar kolektor sejati, dalam artian tidak pernah menjual karya, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Haryono bercerita, pernah menjual lewat balai lelang, dan tidak laku. Kenapa tidak laku? Masalahnya, kata Haryono, yang terjadi di seni rupa kontemporer Indonesia adalah banyak pelukis yang belum matang. Misalnya harga lukisan si A adalah Rp15 juta. Tahu-tahu ada yang menggoreng di balai lelang, laku sampai Rp50 juta, dan segera disebarkan informasinya. Nah, si pelukisnya tidak mau tahu. Ada orang yang pesan Rp40 juta, dia layani. Ada yang pesan lagi, dia layani lagi, terus saja semua dilayani dengan harga yang sudah mencapai Rp40 juta.
“Padahal seharunya dia tetap mempertahankan harga natural, yang Rp15 juta. Kalaupun dinaikkan, ya sekitar Rp17 juta. Nah, karena karya dia sekarang banyak, dan harganya mulai mahal, lama-lama orang berpikir, kok mahal sekali. Pelukis yang tidak mau tahu hal itu sebenarnya sedang bunuh diri.”
Sebaiknya bagaimana? “Ada pilar-pilar dalam seni rupa. Yaitu seniman, galeri, kolektor, balai lelang, museum, pers. Seniman mempublikasikan karya sebaiknya kan lewat galeri. Lalu dibeli oleh kolektor. Bila kolektor ingin memperbarui koleksinya, dilakukan lewat balai lelang. Karya terbaik idealnya dikoleksi museum. Tapi di kita tidak ada museum.”
Tapi di Indonesia, galeri terkadang rancu. Pameran karya seniman, sudah ditandai. Orang yang datang ingin membeli tidak bisa lagi. Akhirnya banyak kolektor yang karena takut kehabisan, langsung membeli pertelepon, tanpa melihat dulu karya. Kualitas jadi tidak diperhatikan. Kurator sebagai guidance pun tidak berfungsi. Si pembeli kemudian kecewa, ketika ia menjual lagi, tapi tidak laku.
Bagi Haryono, kualitas sebuah lukisan salah satunya ditentukan oleh karakter individual senimannya. Bagaimana karakter goresan kuas,pilihan warna, ide, tema, konsep, dan lain-lain. Kualitas juga terkadang terseret oleh kebesaran seniman. Sebutlah si A sebagai seniman besar. Ada lukisannya yang kurang kuat karakternya. Namun, karena dia memiliki nama besar, karyanya yang kurang berkualitas ikut terseret jadi berkualitas.
“Jadi kualitas itu bersifat relatif. Seringkali bagus menurut si A, kurang bagus menurut si B. Karena setiap orang pada dasarnya memiliki selera khas. Tapi bagi pedagang, mereka berani berspekulasi. Yang penting kata orang, karya si A bagus dan dia sangat terkenal, namanya besar, ya sudah beli saja. Orang Jawa bilang, ada rupa ada harga.”
|