Internasionalisasi Seni Rupa Indonesia PDF Print E-mail
Written by Sungging Prabangkara   
Senin, 07 Maret 2011 21:59

BOROBUDUR adalah sebuah karya seni rupa masa lalu. Karena itu, kita harus bisa melahirkan karya seni rupa yang menjadi kebanggaan masa sekarang, bahkan meretas hingga jadi kebanggaan generasi mendatang. Soekarno pernah membanggakan Borobudur kepada Nikita Khrushchev (Pemimpin Uni Sovyet kala itu). Khrushchev berujar, “Itu kan karya mbah-mu (leluhurmu), lalu mana karyamu?”
Soekarno terpekur, dan membuatnya segera mendirikan gedung olahraga Senayan, gedung DPR/MPR, Masjid Istiqlal, patung-patung berukuran besar, dan lain-lain.

Borobudur pernah menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun karena promosi yang kurang gencar, segera tergeser oleh mahacipta dari bangsa lain yang lebih gencar diperkenalkan di dunia internasional. Jadi, selain kita harus mengukir prestasi sendiri yang senapas dengan peradaban manusia, kita juga harus gencar mempromosikannya ke pelbagai penjuru dunia.

Sebagian pelaku seni rupa, kita juga gandrung pada kontemporerisme. Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul: apakah karya seni rupa kontemporer merupakan kelanjutan; dan atau jiplakan dari luar; dan dengan demikian kurang pantas diberi stempel karya seni; atau hasil dari olah genuine local yang patut dipertandingkan dengan karya-karya seni rupa gubahan bangsa lain? Sebagaimana Borobudur layak dipertandingkan dengan mahakarya bangsa lain?

Kita tidak perlu memperdebatkan soal itu secara berlebihan. Sebab, yang diperlukan sekarang adalah: bagaimana karya seni terus diproduksi dengan mengusung semangat lokalitas, lalu kita publikasikan dan promosikan ke pelbagai penjuru angin. Upaya yang tidak gampang dan sangat membutuhkan sinergi berbagai pihak.

Di ranah seni rupa, salah satu institusi yang terlibat dalam upaya publikasi dan promosi ini adalah lembaga kuratorial. Untuk menelisik peran kuratorial dalam internasionalisasi karya seni rupa, Perbincangan edisi ini menghadirkan Suwarno Wisetrotomo sebagai narasumber. Sekira 20 tahun Suwarno berkecimpung sebagai kurator seni rupa Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.


Bagaimana kita harus menginternasionalisasi karya seni rupa Indonesia?
Tentu saja ada banyak cara. Misalnya, bisa membuat even seni rupa di Indonesia tapi skala dan kualitas internasional. Atau bisa dengan cara mendatangi dan berpartisipasi di forum-forum seni rupa di luar negeri. Artinya, dalam dunia yang semakin mudah diakses, untuk menginternasional tidak harus ke mana-mana, atau sekaligus harus ke mana-mana.

Bagi saya, menginternasional lebih dikarenakan kualitas karya, kecerdasan gagasan, kepiawaian mengartikulasikan dan mengkomunikasikan ide-ide, serta kecanggihan mengemas presentasinya. Kemudian perlu dilihat bagaimana ‘dampak politik’nya, dalam pengertian, bahwa peristiwa itu memunculkan perbincangan (diskusi) dan merangsang pemikiran-pemikiran. Dengan kata lain, menginternasional bukan karena tempatnya, tetapi karena kualitas atau “kekuatan” karya-karyanya yang membuat gaung wacananya dianggap penting, dan karenanya meluas, menjadi perbincangan – dalam diskusi, dalam seminar, dalam jurnal-jurnal, atau dalam media massa lainnya – yang tidak boleh dilewatkan.

Perbincangan lengkapnya ada di:

 

baca selengkapnya