Jero Wacik: Jangan Mudah Menyerah PDF Print E-mail
Written by Redaksi   
Selasa, 29 Maret 2011 16:49

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) 2004 – 2009, mengakhiri tugasnya bertepatan masa akhir tugas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada 19 Oktober 2009. Namun Jero Wacik harus mengundurkan diri dari jabatan menteri karena ia dilantik menjadi Anggota DPR dari Partai Demokrat pada 1 Oktober 2009.

Semesa menjadi Menbudpar, ia mencetuskan program Visit Indonseia Year pada 2008, dan selama 2008 itu, ada tiga rekor prestasi Depbudpar yang tentu ikut dibangun berkat kempimpinanya, yakni: 1) kunjungan wisatawan terbanyak dalam setahun 2008, mencapai 6.5 juta kunjungan, 2) pertumbuhan jumlah kunjungan mencapai 13%, dan 3) perolehan devisa mencapai US$7.5 juta.

Selain ikut menorehkan rekor, ada juga beberapa program kerja yang terpaksa tertunda karena masa baktinya habis. Namun, program itu tekah dicanangkan dalam program indeks pengembangan wisata hingga 25 tahun mendatang, dan harus menjadi rujukan para pejabat top di bidang kepariwisataan.

Seperti apa prinsip hidup, pola pikir, sikap, dan rencana yang akan diperjuangkan Jero Wacik setelah ia resmi berkantor di Senayan, berikut petikan perbincangan dengan Ir Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung, yang berlangsung di kantor Depbudpar.

Apa yang menjadi prinsip dalam hidup Anda?

Prinsip yang saya anut dari kecil hingga sekarang, dan saya anggap ini sangat penting, dan mudah-mudahan bisa saya pertahankan hingga mati, yang pertama adalah budaya berpikir positif. Artinya, melihat seseorang atau sesuatu lebih banyak dari sisi positifnya, atau lebih mengutamakan sisi positifnya. Manusia memiliki banyak keinginan. Ingin naik karier, ingin disayang bos, dan lain-lain. Keinginan itu saya lihat sebagai sesuatu yang positif.

Ada 100 hal pada diri manusia. Pasti ada hal negatifnya, mungkin 10 – 20 %. Nah prinsip saya adalah melihat 90 – 80 % hal positifnya. Kita tidak perlu mencari-cari kekurangan orang lain, karena hal itu membuat kita tidak produktif. Bila berpikir positif, kita jadi mudah mengajak orang lain untuk berubah ke arah kemajuan. Bila setiap orang berpikir negatif, dan hanya saling melihat kekurangan yang lain, saling menyalahkan, ini bahaya, bisa membuat berantakan.

Kedua, dalam mengabdi, saya selalu membandingkan diri kepada para pahlawan. Mereka itu, mati saja berani dan siap. Saya diminta untuk kerja keras, begadang, jungkir balik, tidak korupsi, masa tidak mau, masak tidak bisa? Oleh bangsa ini saya belum diminta mati. Nah, saya selalu merasa belum apa-apa bila membandingkan diri kepada para pahlawan. Itu yang membuat saya selalu energik dalam bekerja.

Pada awal-awal menjadi menteri, saya merasa gampang capek. Tapi saya lihat Bapak Presiden sepertinya tidak pernah capek, padahal kerjanya lebih keras dari saya. Waktu di pesawat, saya Tanya, “Pak, mengapa tidak pernah terlihat capek, apa rahasianya?” Presiden memberi tahu saya, “Pak Wacik, kalau terasa capek, coba lihat dan ingat-ingat wajah rakyat yang sengsara, yang melarat, betapa mereka itu membutuhkan kerja keras kita. Itu memotivasi saya untuk terus bekerja.”

Nah, hal itu saya praktikan. Saya bayangkan wajah-wajah rakyat. Saya bandingkan dengan diri saya yang sudah mendapat amanah, mendapat berkah. Ternyata benar, setelah 100 hari jadi menteri, saya merasa tidak capek lagi, dan tidak sadar tahu-tahu sudah lima tahun jadi menteri, tanpa pernah cuti, sering lupa Sabtu dan Minggu. Saya sampai kaget sendiri pada diri saya. Sekarang saya malah makin merasa siap untuk mengabdi.

Bagaimana Anda merintis karier di bidang wisata hingga ditunjuk menjadi Menbudpar?

Jabatan menteri tidak semata-mata dilihat dari keahlian pada bidangnya. Jabatan selevel menteri, paling utama bukan kemampuan detail dalam menangani bidangnya. Paling penting untuk jabatan menteri itu memiliki integritas, termasuk di sana adalah keinginan untuk mengabdi dan kemampuan berkerja keras, memiliki loyalitas kepada presiden, rakyat, dan negara, termasuk bersedia tidak korupsi, tidak memperkaya diri. Saya merasa memiliki integritas dan sudah buktikan itu. Saya berhenti jadi pengusaha ketika saya menjabat Menbudpar.

Kedua, hal yang selalu ditekankan Presiden dalam pemilihan menteri, adalah melihat kapasitas leadership. Hal penting dari seorang menteri yang saya rasakan, harus memiliki kemampuan memimpin, berpikir makro, dan menejermahkan visi dan misi yang dicanangkan Presiden.

Kemampuan leadership ini saya dapat sedari kecil. Waktu SD, saya jadi ketua kelas. Waktu SMP dan SMA, jadi Ketua OSIS. Waktu di ITB, saya jadi Ketua Senat Mahasiswa Mesin. Di ITB, saya merasa jiwa kepemimpinan dan organisasi saya ditempa, karena saya pikir mahasiswa-mahasiswa terbaik se-Indonesia ada di ITB. Menjadi Ketua Senat di ITB, maka seolah-olah sudah memimpin Indonesia. Saya mendapat predikat sebagai mahasiswa teladan waktu di ITB tahun 1973.

Tidak mudah untuk mendapatkan predikat mahasiswa teladan di ITB. Mereka harus jadi mahasiswa extraordinary yang berprestasi di bidang akademik, aktivitas non-kurikuler, aktivitas ekstrakurikuler, minat-bakat, dan disukai oleh lingkungannya. Saya juga menjadi Ketua Pemuda Bali. Waktu saya pindah dari Bandung ke Jakarta, saya didapuk jadi Ketua Pemuda Suka Duka Hindu Dharma. Akumulasi dari pengalaman memimpin itu menempa jiwa leadership saya.

Saya kerja di Astra selama 18 tahun. Di sana saya jadi menajer. Astra ini perusahaan besar, yang jadi manajer tentu bukan orang ecek-ecek sebab harus mampu berhadapan dengan orang asing, harus bisa bernegosiasi dengan orang Jepang.

Setelah 18 tahun di Astra, saya merasa tidak cukup hanya di Astra. Saya harus berkiprah dengan lebih luas lagi. Saya keluar dan mendirikan perusahaan sendiri di Bali. Saya buka villa dan travel biro. Sebagai orang Bali, sebetulnya ada build in sebagai orang tourism. Sedari kecil, orang Bali sudah biasa berhadapan dengan tamu. Jadi, saya dengan mudah mengembangkan usaha di bidang wisata.

Pengalaman saya sebagai entrepreneur di Bali, kemudian semakin mengajarkan kepada saya dalam mengembangkan wisata itu dibutuhkan ke ramahaman. Setelah saya jadi Menteri yang mengurusi pariwisata, saya melihat bangsa Indonesia secara lebih luas, dan saya yakin bahwa kita memiliki modal besar untuk mengembangkan wisata, yaitu sebagai bangsa yang ramah.

Setelah itu?

Tahun 2003, sempat saya ingin menjadi Gubernur Bali. Saya berpikir, Bali ini perlu ditata. Tidak bisa kalau dibiarkan begitu saja. Tapi untuk jadi Gubernur, ternyata harus dicalonkan oleh partai. Saya bukan orang partai. Kalau begini caranya, saya harus jadi orang partai. Saya mulai surfing, partai mana yang harus saya masuki. Nah, kalau tidak memiliki jiwa leadership dan daya analisis yang tinggi, bisa salah masuk partai.

Saya lihat bendera-bedera partai, saya jejer di meja, saya lihat siapa saja tokohnya, dan saya cari tokoh yang paling cocok chemistry-nya dengan saya. Nah, saya tertarik sama partai nomor 9 yang tokohnya Pak SBY. Ini feeling. Saya tahu Pak SBY, dan tentu Pak SBY tidak tahu saya. Maka saya telepon ke kantor partainya. Saya dihubungkan dengan  pengurusnya yang kebetulan mantan teman saya di Astra, Pak Syarif Hasan. Saya telepon beliau, saya minta anggaran dasar Partai Demokrat. Saya merasa cocok, maka saya masuk Demokrat.

Lalu apa yang terjadi?

Saya, kalau sudah masuk sesuatu, maka saya selalu all out. Begitu saya masuk PD pada 30 Desember 2003, saya langsung ngantor setiap hari dari pagi sampai malam. Ketika Pemilu Legislatif, saya daftar jadi caleg untuk Bali, tapi saya kalah karena saya urutan nomor 4. Walau saya tidak jadi legislator, semangat saya tidak pernah pudar. Saya terus aktif dan berkampanye untuk kemenangan Pak SBY. Rupanya Pak SBY memilih saya jadi menteri. Waktu jadi menteri, seluruh kemampuan saya kembangkan, saya curahkan.

Ketika Anda jadi menteri, ide-ide apa yang pertama kali terlintas dalam pikrian Anda untuk dikembangkan?

Berdasarkan pengalaman, saya pikir, industri pariwisata itu menjual keramahan dan keindahan. Saya lihat, negeri kita yang luas ini sangat indah dan penduduknya ramah. Modal dasar sudah kuat. Kalau dikembangkan dengan serius, akan mensejahterakan rakyat. Itulah yang terpikir oleh saya. Tentu banyak hambatannya, misalnya anggaran. Tapi hambatan saya jadikan tantangan. Terus kebanyakan orang pesimis. Kita baru dihantam gempa di Nabire, gempa dan tsunami di Aceh, Yogya, Pangandaran, dan ancaman bom teroris. Seolah-olah kita memiliki alasan yang logis untuk pesimistis. Saya katakan kepada teman-teman, betul kita menghadapi banyak cobaan, tapi kita harus tetap optimistik.

Nah, modal saya yang lain, selain berpikir positif, saya juga selalu optimistik. Sebetulnya optimis itu adalah anak kandung dari berpikir positif. Modal ketiga saya adalah berani. Kalau untuk negara dan bangsa, saya berani. Melawan Malaysia untuk berdiplomasi, masa saya tidak berani?

Maka saya kerahkan semua aparat di Depbudpar, para stakeholder, termasuk para mantan menteri pariwisata terdahulu, untuk membangun pariwisata Indonesia. Kita harus menyadarkan orang-orang yang pesimis. Ayo, ayo! Akhirnya dapat kita. Pariwisata kita bangkit.

Barangkali ada orang yang menjadi inspirasi bagi Anda?

Saya sering meneladani cara berpikirnya Sir Alex Ferguson dari MU: Tidak boleh menyerah. Pada salah satu final laga Champion, baru menit kesatu MU sudah kebobolan. Babak kedua hampir habis, masih ada injury time tiga menit. Ferguson mengganti dua pemain sekaligus. Dalam tiga menit itu, MU bisa membalaskan kekalahan jadi 2 – 1, dan memenangkan Champion. Itu adalah sejarah. Itu saya tiru: Tidak boleh menyerah. Visit Indonesia Year itu luar biasa tantangannya, dari menghadapi cobaan yang bermental pesimistis hingga tantangan alam, keamanan, air port ditutup karena banjir, dan lain-lain. Tapi karena tidak menyerah, akhirnya pada 2008 pariwisata kita memecahkan tiga rekor, dan dapat MURI walau MURI bukan tujuan. Yang jelas, dapat devisa US$7,5 milyar. Dalam bidang kebudayaan, juga mendapatkan banyak prestasi dan kemajuan. Film Indonesia yang sempat mati suri, kembali bangkit sacara produksi dan kualitas. Bahwa UU perfilman diributkan, itu kan baru awal terbit, nanti akan berjalan.

Kira-kira pekerjaan apa yang belum terselesaikan selama menjabat Menbudpar? Atau ada obsesi yang belum tercapai sehubungan dengan jabatan Anda?

Tentu ada. Malah banyak. Saya sampaikan laporan kepada Presiden sebelum 1 Oktober 2009 sesuai dengan yang diminta Pak Presiden. Di Depbudpar, ada beberapa pending job yang ingin saya selesaikan, tapi sayang waktunya habis, antara lain Festival Sasando, alat musik dari Nusatenggara Timur. Alat musik ini sudah hampir punah. Presiden sudah menyetujui bulan Desember 2009.

Terus pengusulan Angklung ke UNESCO untuk disertifikasi. Batik belum sampai finishing sertifikasinya, tapi Oktober ini sudah akan rampung. Namun sejak 1 Oktober 2009, saya sudah mengundurkan diri jadi Menbudpar. Jadi saya tidak ikut merasakan penerimaan sertifikasi tersebut. Lalu Taman Majapahit di Trowulan, juga belum selesai. Museum Manusia Purba di Sangiran, belum rampung. Kemudian menjalankan Visit Museum Year 2010.

Kemudian pengusulan sertifikasi warisan budaya benda untuk dunia, yaitu landscape persawahan Suba di Bali. Pengusulan sertifikasi Tanah Toraja, Nias, sudah diajukan ke UNESCO. Visit-visit lain yang belum diselesaikan, Visit Kalbar 2010, Visit Batam 2010, Visit Losari 2010, Visit Lombok Sumbawa 2012, dan pengembangan 1.000 desa dengan pola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Kalau Anda resmi jadi anggota DPR, apa yang akan diperjuangan untuk kemajuan Budpar?

Saya akan memperjuangkan anggaran Budpar mencapai Rp5 triliun. Pertama, untuk memajukan kebudayaan, hingga pemeliharaan situs-situs budaya di seluruh Tanah Air, bisa dilakukan dengan baik. Lalu arca yang ditemukan terus-menerus, tidak lagi lari ke mana-mana, tapi menjadi koleksi museum-museum kita. Mendorong perfilman, termasuk membuat film-film kepahlawanan. Lalu di bidang pariwisata, promosinya harus dilakukan besar-besaran. Malaysia itu, untuk iklan saja tahun ini menghabiskan Rp1.5 Triliun, sedangkan kita hanya Rp200 milyar. Itu akan saya perjuangkan kalau saya tetap di DPR.

Bagaimana Anda memprediksi Indonesia lima tahun ke depan?

Indonesia dalam lima tahun ke depan, akan lebih maju dari sekarang. Alasannya, Pak Presiden memasuki masa bakti untuk kedua kalinya. Dalam teori leadership, orang yang memasuki putaran kedua itu akan tahu banyak soal dan lebih matang. Menghadapi persoalan akan dengan sikap yang lebih tegas, dan akan tahu di mana saja terdapat kerikil-kerikil, dan tahu cara mengendalikannya. Juga dengan kemenangan 20% lebih suara di DPR, dukungan terhadap beliau akan lebih kuat.

Lalu persepsi dunia tentang SBY, bagus sekali. Sebagai Menbudpar, saya sering bertemu dengan menteri-menteri dari negara lain, saya selalu telaten bertanya, bagaimana persepsi mereka tentang Indonesia, mereka respect tentang Indonesia, dan selalu mengatakan your leader is good. Jadi memang sangat menjanjikan kemajuan di lima tahun ke depan. Apalagi jika harapan beliau terlaksana, yaitu para menteri sudah dapat bekerja sejak hari pertama.

Apa SBY akan merekrut orang-orang profesional dan mengurangi orang partai?

Oh tidak harus orang non-partai orang profesional itu. Banyak orang partai yang profesional. Saya kan orang partai yang profesional. Saya orang partai yang tidak politikus. Saya profesional yang berkecimpung di partai. Manurut saya, orang profesional yang baik, adalah mereka yang mengerti politik. Kalau tidak mengerti politik, itu bahaya. Paling tidak, harus mengerti politik kenegaraan.

Ada yang mengandaikan, politik itu seperti udara. Apabila udara kotor, maka kita akan ikut-ikutan jadi kotor karena menghirup udara kotor?

Oh tidak selamanya. Itu tergantung kepada kitanya. Saya sudah enam tahun terjun di politik, saya tidak merasa terbawa kotor. Hidung kita ini kan ada penyaringnya. Penyaringnya itu harus difungsikan supaya kita tetap dapat menghirup oksigen yang bersih sekalipun udaranya kotor.

Omong-omong, hobby Anda apa saja?

Saya hobby main golf, dari dulu suka main golf. Tapi sejak jadi menteri, saya sudah tidak bisa main golf lagi. Untunglah saya menjadi Ketua Umum PGI, jadi masih ada beberapa kali tiap Hari Sabtu membuka turnamen golf.

 

PERSONAL DATA

Name                          :  Jero Wacik

Date& Place of Birth :  April 24, 1949  Singaraja - Bali

Religion                      :  Hindu

Marital Status            :  Married with four children

Wife                             :  Triesna Wacik (10.04.1955)

Graduated in Psychology Universitas of Indonesia

 

PROFESSIONAL EXPERIENCE

1973                  :  A Member of Research Team for small Textile Industries in West Java.

1973 – 1974    :  Assistant in Fluid Mechanics and Thermodynamics, Mechanical Engineering Department, Bandung Institute of Technology (ITB).

1974 – 1975    :  Assistant Services Manager, PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1975 – 1976    :  Jakarta Branch Service Manager PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1976 – 1979    :  Customer Service Manager PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1979 – 1983    :  Sales Manager of Reconditioned Machines PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1980 – 1983    :  Secretary of Manufacturing Team, PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1981 – 1983    :  ASTRA Manufacturing Team

1983 – 1988    :  Lecture in Marketing, faculty of Economy University of Indonesia

1983 – 1990    :  Government Sales Manager PT. UNITED TRACTORS (ASTRA GROUP).

1990 – 1992    :  Director PT. SURYA RAYA IDAMAN Hotels, Travel Agent and Golf Course Company Jakarta.

1992  present  :

1. President Director, PT. GRIYA BATU BERSINAR, Tourism and Hospitality Company, Jakarta.

2. President Director PT. PESONA BOGA SUARA, Tourism and Hospitality Company, Jakarta.

3. President Director, PURI AYU, Interior and Textile Design Production Company, Jakarta.

2004                :  Minister of Culture and Tourism of Indonesia Republic.

 

COURSE & SEMINAR ATTENDED

1. Marketing Management Course, LPPM July 1975.

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi, September 1975.

3. Advance Sales Force Management, LPPM May 1976.

4. Man Management, LPPM June 1976.

5. Factory Course, Komatsu Tokyo March 1977.

6. Managing Motivation Training, Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung (ITB) May 1978.

7. Zero – Base Budgeting, LPPM 1978.

8. Financial Management, SGV UTOMO, Jakarta March 1979.

9. Transfer of Technology Seminar ASTRA INT. & INSTITUTE EUROPEAN D’ADMINISTRATION des AFFAIRES (INSEAD) August 1979.

10.Business Strategy, ASTRA INT. & INSTITUTE EUROPEAN D’ADMINISTRATION des AFFAIRES (INSEAD) September 1979.

11.Marketing Industrial Product ASTRA INT. & INSTITUTE EUROPEAN D’ADMINISTRATION (INSEAD)November 1979.

12.EDP for Manager INSTITUTE OF ADVANCE Computer Technology 1980.

13.Industrial Survey to Taiwan, Thailand, Singapore, Malaysia, March 1982.

14.Seminar on Total Quality Control, Jakarta November 1983.

15.Seminar on Sugar Industry, Australia February 1984.

 

ORGANIZATIONAL ACTIVITIES

1. Chairman of Student in Junior High School 1965.

2. Chairman of Planning & Research of Student in Senior High School 1968.

3. Chairman of Balinese Art Group, ITB Bandung 1971.

4. Chairman of Mechanical Engineering Student, ITB Bandung 1973.

5. A Member of the Indonesian Institute of Engineers (PII) 1974.

6. Chairman of Marketing Management Club, FE-UI 1978

7. Committee of ITB’s Alumni Association (3 periods).

8. Members of Association of Young Indonesian Businessman since 1982.

9. Members of Association of Indonesian Sugar Cane Technologist, since 1982.

10.Member of Democratic Party Election Success Team, 2004.

11.Member of Success Team for Presidential Election ( SBY – JK ), 2004.

 

ADDITIONAL ACTIVITIES

• Achievement as “ Mahasiswa Teladan ITB “ 1973.

• Book Author of “ Matematika untuk SMA “ by Ganesha Exact Bandung 1979.

• Book Author of “ Fisika untuk SMA “ by Ganesha Exact Bandung 1979.

• Book Author of “ Cara Mudah Menjadi Wirausaha “ by Lembaga Penerbit Universitas Indonesia (LP UI) 1998.

• Lecturer : Lecture in Entrepreneurship, Faculty of Economy, University of Indonesia (FE UI).

• Lecturer : Lecture in Marketing, Faculty of Economy, University of Indonesia (FE UI).

• Speaker in Management Seminar and Short Course for BUMN, Banks, Universities and Private Companies

• Kursus Prinsip – Prinsip Manajemen, PERTAMINA.

• Marketing, Kursus Kader Pimpinan (SUSKAPIM) PERTAMINA.

• Entrepreneurship.

• Leadership.

• Motivation.

 

EDUCATION

• SMA Negeri Singaraja, Bali.

• Bandung Institute of Technology (ITB) Graduated in Mechanical Engineering, 1974.

• University of Indonesia (UI), Graduated in Economic 1983 Major Marketing.