|
NAMA pelukis I Nyoman Masriadi makin melejit, dan makin terasa legit bagi para investor yang bergerak di lukisan. Betapa tidak, mereka yang kira-kira tahun 2002-an membeli lukisan Masriadi masih sekira Rp40-an juta, kini bisa bersiul-siul bila menjual kembali lukisan tersebut, sebab harga lukisan Masriadi di balai lelang, sudah membumbung jauh, angka nol–nya menyentuh sembilan digit.
Pada lelang di Sotheby’s Hongkong bulan Oktober 2008, untuk kategori Highlight of Sotheby’s Modern and Contemporary Southeast Asian Paintings, karya Masriadi berjuluk The Man from Bantul terlego seharga 7,8m HKD atau Rp.9,46 Milyar, lalu karya berjudul Petualanganku Berakhir Setelah Ketemu Ibumu menerima bid terakhir di angka 2,9m HKD atau Rp.3,5 Milyar, dan karya berjuluk Too Small jatuh di harga 1,82m HKD atau Rp.2,2 Milyar.
"His work makes money,” seperti itulah kira-kira bila mengoleksi karya Masriadi.
Mengapa lukisan Masriadi bisa dibaratkan sebagai money machine? Para art investor, art dealer, spekulan, cenderung satu suara dalam memberikan jawaban: langka.
Sudah lama karya lukis menjadi komoditas. Benda apapun yang berhasil dikomodifikasi, akan terkena hukum pasar supply and demand. Sebagaimana juga BBM, sembako, bahkan semen, bila barang langka sedangkan permintaan melonjak, maka harga benda itu akan merangkak naik. Perlu diselidiki, bisa jadi jumlah lukisan Masriadi lebih sedikit dari jumlah kolektor murni, atau dari jumlah art investor dan spekulan, hingga permintaan terus melonjak.
Selain lukisan Masriadi memang langka, tentu ada banyak asumsi dan katalisator yang menjadi reason mengapa harganya mahal.
Salah satu asumsi adalah, secara politis ada upaya kuat dari para “patron” seni rupa Indonesia untuk menaikkan harga lukis Indonesia di pasar internasional. Semahal-mahalnya harga lukisan Masriadi di balai lelang macam Sotheby’s, tentu masih jauh dibandingkan harga lukisan Fang Lie Jun dari China yang mencapai Rp.500-an milyar.
Bisa jadi, para “patron” yang menguasai peredaran lukisan Masriadi, yang notabene para patron itu adalah pebisnis sukses, mencoba berkeksperimentasi dalam meng-katrol harga lukisan di balai lelang yang cukup berwibawa. Ada yang mesti direnungkan, mengapa lelang lukis Masriadi yang terganjar mencapai sembilan digit itu di-bid nya oleh pengusaha dari Indonesia ? Adakah ini “murni” transaksi atau benar-benar menjadi asumsi bahwa terdapat upaya politis untuk mengkatrol “harga diri” karya seni Indonesia?
Nyatanya, bukan lukisan Masriadi saja yang turut melambung di balai lelang. Tapi juga karya Rudi Mantovani, Dipo Andy, Haris Purnomo, Gallam Julkifli, dan lain-lain, ikut merangkak. Dan kita sering mendengar pesan, harga lukisan di balai lelang, bukan harga riil yang beredar di galeri.
Ada banyak asumsi dan katalisator mengapa lukisan Masriadi mahal. Redaksi situseni akan coba menelisik, dan menurunkan hasil telusurannya pada kesempatan lain. Selamat menunggu. | redaksi
Satu pertanyaan diajukan kepada kolektor seni rupa papan atas, yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta, pada pembukaan pameran Siyu Taksu, Grand Indonesia, Jakarta , 13 Oktober 2009. Mengapa lukisan I Nyoman Masriadi bisa mahal?
“Saya lihat, lukisannya memang unik dan langka. Bagus. Secara teknis, dia menggarap lukisannya dengan sungguh-sungguh. Temanya unik dan langka, tidak ada pengulangan. Peminatnya banyak. Tapi barangnya juga terbatas. Kalau peminat banyak, barang langka, harga akan naik. Hukum ekonomi memang begitu. Sekarang lukisan Masriadi di beberapa balai lelang internasional mengalahkan harga Affandi. Saya doakan, semoga karya dia makin baik terus, dan namanya makin diperhitungkan di tingkat internasional. Juga karya seniman-seniman Indonesia lainnya, semoga terus maju.”
|