Lepas
Haryono Budiono: Antara Selera dan Estetika PDF Print E-mail
Written by Redaksi   
Selasa, 24 Mei 2011 16:58

Teks dan foto DODDI AHMAD FAUJI

Selaras dengan perjalanan waktu, selera terkadang berubah.

Seseorang memutuskan jadi kolektor berlatar motif yang berda-beda. Ada yang berangkat dari sebagai pecinta seni, tapi tidak sedikit yang menjadi kolektor karena memiliki jiwa niaga yang tinggi. Dan karya seni rupa, khususnya lukisan, adalah produk kesenian yang paling menggiurkan untuk perniagaan. Haryono Budiono, Direktur pada PT. Dian Tarunaguna yang menjadi distributor Shiseido Cosmetic (keluaran Jepang), Senin (2/11/2009) siang, menuturkan latar belakang dan kiatnya sebagai kolektor.

Sekira tahun 80-an, ia sering ditugaskan ke Jepang, Eropa, China, dan Singapura. Waktu datang ke hotel, selalu ada buku agenda acara, dari mulai konser hingga pameran. “Lama-lama saya penasaran, maka saya mulai coba menonton pameran. Dan makin sering nonton pameran, mulai senang, merasa melihat sesuatu yang baru,” kata mantan Product Manager PT. Triple Ace Crop (1981-1982) itu.

Dekade 80-an, di Eropa dan Amerika, dunia seni rupa sedang marak dengan karya kontemporer. Semangat kontemporer itu merembet ke China, Jepang, India, Korea, dan akhirnya ke Indonesia. “Saya bandingkan, ternyata pelukis Indonesia tidak kalah. Dan yang menarik bagi saya, harganya masih murah, terjangkau. Maka tahun 2006, saya mulai mengoleksi lukisan-lukisan kontempoer.”

Lukisan old master, katanya, terbatas senimannya. Mereka terkenal dan harganya mahal. Juga banyak yang memalsukan. Para kolektor sering ketakutan kalau membeli karya old Master. Jangan-jangan mereka membeli yang palsu. Apalagi bila senimannya sudah meninggal, tambah sulit membedakan mana yang asli dan palsu.

Kalau di luar negeri, ada badan bertanggung jawab dan dapat melakukan verifikasi keaslian sebuah lukisan, bahkan bisa mengeluarkan provenance (perjalanan) sebuah karya. Badan ini bisa mengeluarkan track record dan portopolio seniman. Badan ini didukung pemerintah. Di sini, lembaga itu belum ada. Ini menyulitkan orang.

“Atas dasar itulah, saya beralih ke kontemporer. Selain senimannya banyak dan masih hidup, gayanya variatif. Ide-idenya segar. Eksplorasi tema dan bentuk makin luas dan jauh.”

Haryono menuturkan, saat menikmati karya seni, pertama sekali yang muncul adalah perasaan daya hidup. Takjub atas pilihan warna, bentuk, atau ide yang terasa menyegarkan. “Di Asia Tenggara, hingga 70%, lukisan kontemporer dikuasai pelukis Indonesia. Dan lukisan kontemporer karya seniman Indonesia, yang harganya mulai mahal-mahal, dikoleksi oleh orang Indonesia sendiri. Jadi kita bisa berbangga, lukisan bangsa kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.”

Bagi Haryono, pertama sekali adalah rasa suka saat melihat sebuah lukisan. Kedua, disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Ketiga, selaras dengan perjalanan waktu, selera akan berubah. Apa yang dulu disukai, menjadi kurang disukai lagi ketika melihat karya-karya lain yang lebih menyegarkan. “Nah, para kolektor biasanya ingin melakukan upgrading koleksinya. Karya yang sudah kurang disukai, mulai dijual untuk ditukar dengan karya baru. Syukur-syukur kalau karya yang hendak dijual itu jadi mahal, dan kita bisa memiliki karya lain lagi.”

Bagi Haryono, pertama sekali adalah rasa suka saat melihat sebuah lukisan. Kedua, disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Ketiga, selaras dengan perjalanan waktu, selera akan berubah. Apa yang dulu disukai, menjadi kurang disukai lagi ketika melihat karya-karya lain yang lebih menyegarkan. “Nah, para kolektor biasanya ingin melakukan upgrading koleksinya. Karya yang sudah kurang disukai, mulai dijual untuk ditukar dengan karya baru. Syukur-syukur kalau karya yang hendak dijual itu jadi mahal, dan kita bisa memiliki karya lain lagi.”

Adalah fakta, bahwa para kolektor itu berbeda-beda tipe. Ada kolektor yang sekaligus menjadi investor. Ada pedagang atau sering disebut “kolekdol” namun mengaku sebagai kolektor. Ada spekulan, tapi sering pula disebut kolektor. Menurut Haryono, saat ini, kolektor yang benarbenar kolektor sejati, dalam artian tidak pernah menjual karya, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Haryono bercerita, pernah menjual lewat balai lelang, dan tidak laku. Kenapa tidak laku? Masalahnya, kata Haryono, yang terjadi di seni rupa kontemporer Indonesia adalah banyak pelukis yang belum matang. Misalnya harga lukisan si A adalah Rp15 juta. Tahu-tahu ada yang menggoreng di balai lelang, laku sampai Rp50 juta, dan segera disebarkan informasinya. Nah, si pelukisnya tidak mau tahu. Ada orang yang pesan Rp40 juta, dia layani. Ada yang pesan lagi, dia layani lagi, terus saja semua dilayani dengan harga yang sudah mencapai Rp40 juta.

“Padahal seharunya dia tetap mempertahankan harga natural, yang Rp15 juta. Kalaupun dinaikkan, ya sekitar Rp17 juta. Nah, karena karya dia sekarang banyak, dan harganya mulai mahal, lama-lama orang berpikir, kok mahal sekali. Pelukis yang tidak mau tahu hal itu sebenarnya sedang bunuh diri.”

Sebaiknya bagaimana?
“Ada pilar-pilar dalam seni rupa. Yaitu seniman, galeri, kolektor, balai lelang, museum, pers. Seniman mempublikasikan karya sebaiknya kan lewat galeri. Lalu dibeli oleh kolektor. Bila kolektor ingin memperbarui koleksinya, dilakukan lewat balai lelang. Karya terbaik idealnya dikoleksi museum. Tapi di kita tidak ada museum.”

Tapi di Indonesia, galeri terkadang rancu. Pameran karya seniman, sudah ditandai. Orang yang datang ingin membeli tidak bisa lagi. Akhirnya banyak kolektor yang karena takut kehabisan, langsung membeli pertelepon, tanpa melihat dulu karya. Kualitas jadi tidak diperhatikan. Kurator sebagai guidance pun tidak berfungsi. Si pembeli kemudian kecewa, ketika ia menjual lagi, tapi tidak laku.

Bagi Haryono, kualitas sebuah lukisan salah satunya ditentukan oleh karakter individual senimannya. Bagaimana karakter goresan kuas,pilihan warna, ide, tema, konsep, dan lain-lain. Kualitas juga terkadang terseret oleh kebesaran seniman. Sebutlah si A sebagai seniman besar. Ada lukisannya yang kurang kuat karakternya. Namun, karena dia memiliki nama besar, karyanya yang kurang berkualitas ikut terseret jadi berkualitas.

“Jadi kualitas itu bersifat relatif. Seringkali bagus menurut si A, kurang bagus menurut si B. Karena setiap orang pada dasarnya memiliki selera khas. Tapi bagi pedagang, mereka berani berspekulasi. Yang penting kata orang, karya si A bagus dan dia sangat terkenal, namanya besar, ya sudah beli saja. Orang Jawa bilang, ada rupa ada harga.”

 
Tossin Himawan: Jangan Membeli dengan Telinga PDF Print E-mail
Written by Redaksi   
Rabu, 06 April 2011 18:35

Seni lukis Indonesia sedang memasuki fase “Booming Keempat”. Demikian salah satu pokok diskusi di Galeri 678, Kemang, tempo hari. Kelahiran booming lukisan ini disebabkan oleh berbagai katalisator, dan yang paling menentukan adalah para buyer (pembeli), dengan segala kategorinya. Ada kolektor sejati, yang membeli karya atas dasar kecintaan dan penghargaan terhadap kreativitas seniman. Ada investor, yang menempatkan karya seni sebagai komoditas. Ada pialang yang bermain di wilayah kesenian semata untuk mencari keuntungan. Juga ada orang kaya baru yang legeg (petantang-petenteng dan suka mentang-mentang).

Tentu saja mereka memiliki uang, tapi di mana sesungguhnya peran esensial mereka dalam seni: sekadar membeli dan membiarkan situasi seni carut-marut, atau menjadi maesenas yang memiliki keberpihakan sekaligus teladan kemajuan?

Perbincangan dengan Tossin Himawan berikut ini, adalah untuk menengok jejak dan sikap seorang kolektor karya seni. Sehari-harinya ia anggota Direksi Astra Motor International. Baginya, membeli karya seni itu sifatnya subjektif, menggunakan selera  dan mata sendiri, dan bukan ikut-ikutan karena mendengar omongan orang lain bahwa karya si ini atau si anu itu sangat baik untuk dikoleksi. Referensi dan pengalaman apresiasi dalam menangkap harmoni, keindahan, dan bentuk estetik yang benar itulah pedoman subjektivitas kolektor kelahiran Bandung, 1947 ini. Berikut petikannya.

Berapa jumlah koleksi sekarang?
Sudah diregistrasi, tapi saya tidak ingat jumlah persisnya. Pokoknya semua ada di rumah ini. Nanti bergiliran kami display di dinding. Isteri saya yang melakukan itu semua.

Pemeliharaannya bagaimana?
Nah itu dia, maintenance lukisan itu harus teliti. Daerah kita ini kan tropis, jadi kelembabannya tinggi. Kalau suhu terlalu basah, bisa membuat lukisan gampang jamuran. Kami memberi vernis secara berkala untuk menangkal debu maupun menjaga supaya cat minyak tidak retak. Apalagi untuk lukisan yang usianya puluhan tahun, perawatannya harus super ekstra, hingga perlu restorasi.

Bapak pernah menjual koleksi, atau terpikir suatu hari menjualnya?
Sampai sekarang belum terpikirkan. Koleksi saya ada yang berpindah tangan, karena saya berikan ke orang lain yang sangat menginginkannya. Waktu anak saya pindah ke Amerika, beberapa koleksi kesukaannya diboyong ke sana.

Terus, koleksi-koleksi itu mau diapakan, mau dikemanakan? Apa sudah ada rencana membuat museum?
Harus diakui, membuat museum itu sangat mahal. Bikin gedungnya tidak begitu repot, karena hanya sekali. Tapi maintenance-nya yang akan mahal. Juga membuat programnya, event, booklet, kuratorial, membutuhkan upaya dan dana yang beras dan terus-menerus, dan harus konsisten.

Nanti publik tidak bisa ikut menikmati koleksi itu kalau tidak dimuseumkan?
Namanya juga koleksi pribadi, jelas bukan untuk konsumsi publik. Saya mengusulkan, Galeri Nasional ruangan yang bersifat museum. Nantinya kan bisa memamerkan larya-karya terbaik Indonesia. Penyelenggaraannya bisa secara tematik, misalnya pameran lukisan impresionis Indonesia selama tiga bulan. Saya tidak keberatan koleksi saya dipinjam untuk kepentingan apresiasi. Saya pikir, kolektor lain pun tidak akan keberatan. Tapi penyelenggaraannya tentu harus profesional. (Lukisan koleksi Tossin ada yang dipinjam oleh salah satu satu museum paling banyak pengunjungnya di Bali -red).

Omong-mong, bagaimana awalnya menyukai karya seni?
Panjang ceritanya. Sepanjang yang saya ingat, pada awal tahun 1950, belum ada televisi apalagi play station, saya diajak orang tua nonton pertunjukkan film kartun Snow White and Seven Dwarfs di bioskop Texas, jalan Raya Barat (Groote Postweg) Bandung. Tentu tidak banyak yang diingat, tapi film itu amat membekas. Saya masih ingat tokoh Sneezy yang pulang dari pertambangan, dan Snow White yang tertidur kecapean di tujuh ranjang kecil yang disatukan entah punya Sneezy. Saya merasakan film itu begitu indah, memukau, melahirkan ketakjuban, rasa estetik yang mendalam. Film itu sama dengan drama, ada jalan cerita dan konliknya, yang dapat menimbulkan kepuasaan dan memahami karakteritik tokoh bagi para penikmatinya.

Makin saya besar, lingkungan makin mendidik dan menjadikan keterlibatan, keterikatan, keterpikatan, sehingga lebih mencintai kesenian. Sedikit demi sedikit, juga menambah kemampuan saya untuk mulai mengerti apresiasi seni.

Keluarga saya memang dekat dengan kesenian. Nenek saya dari pihak ayah, adalah perias pengantin gaya European Tionghoa dengan pernik Samkay, Cenap, dan kelak altar keluarga dengan sansui; lukisan di bawah kaca dengan tema gunung dan air. Usaha nenek diteruskan oleh ibu saya untuk periode yang pendek. Dari pihak ibu, karena rumah nenek bekas toko P&D (Provisien and Drinken), maka di sana banyak poster dari tembakau Van Nelle, Bir, reproduksi dari Nachtwacht, dan lain-lain.

Banyak keramaian estetik yang mendidik saya, seperti nonton Sim circus,  wayang potehi, cap gomeh, aktivitas di kelenteng seperti Cemen (sliding pake magnet), Gambar Toong dengan akordeon, tong setan, serta pelbagai ornament kelenteng di Bandung, di jalan Kelenteng waktu itu.
Pada bulan purnama, bermain bersama teman-teman, kami duduk-duduk pada dua singa batu di kiri dan kanan kelenteng. Sekitar tahun 1959, singa batu itu mulai dilarang diduduki oleh penjaga. Di kelenteng juga ada lukisan Kilin dan Lo Cia yang besar di sayap kiri dan kanan kelenteng. Sedangkan di aula utama, terdapat komik Sie Djin Kwie yang kelak direnovasi oleh tetangga yang namanya Tan Tek Liong.

Jadi keluarga Anda memang seniman?
Ibu saya lulusan Nijverheid Vaakschool, maka beliau bisa menyulam dan membordir. Aktivitasnya bersinggungan dengan gambar maupun poezie album yang diberi istilah Mooei Indie (Indonesia bagus), yang berisi lukisan tentang terang bulan. Saya kira album itu dibuat sebelum tahun 1940. Hal itu sangat mengesankan saya. Pada tahun 1957, saya baru punya poezie album yang hampir penuh diisi menjelang tahun 1961. Ada teman juga yang turut mengisi album itu sampai 1966. Di situ saya terlibat belajar mengerti apa yang saya lihat dan belajar mencintai karya seni.

Ayah saya begitu telaten menjelaskan album photonya dari tahun 30-an, yang berisi pelbagai landscape seperti curug (air terjun –red), Sang Hyang Tikoro di Rajamandala, pelbagai situ (telaga –red) di sekitar Preanger dulu, juga melihat sawah yang bertingkat-tingkat. Ada foto di Pelabuhan Ratu, Bayah, Saketi, Goa Kapur dekat Padalarang (Pawon), Curug Panganten dekat Cisarua – Cimahi,  sampai pemandangan di Garut Selatan. Dalam album itu juga ada Perangko dari Ned Indie sampai RI.

Pengalaman istimewa yang terkait dengan kesenian di waktu kecil, yang sulit dilupakan hingga sekarang?
Pada tahun 1959, saya ikut lomba menggambar antar-murid se-Bandung. Saya melukis barong Bali. Saya kalah. Karya saya tidak dipamerkan pada dinding di ruang utama, tapi menjadi pelengkap dan ditaruh di meja saja. Saya kecewa dan mau menangis. Sampai sekarang, saya masih deungdeuleueun (ternging-ngiang -red) kalau mengenangnya. Tapi pengalam kurang menyenangkan itu justru menjadikan saya tambah menyukai lukisan, sehingga saya semakin mau mempelajari elemen-elemen kesenian seperti garis, bidang, warna, pencahayaan, waktu dan gerak, serta tekstur.

Lainnya?
Pengalaman lainnya, kebanyakan menyenangkan. Misalnya tur ke pelbagai taman di Bandung, dari mulai Kebon Raja, Taman Sari depan ITB, Oranje Plein, Taman Maluku, Museum Geologi Bandung, dan cerita mengenai hikayat Telaga Bandung, sampai Taman Lalu lintas yang dibuka tahun 1955, semuanya mendatangkan inspirasi estetik bagi ‘manusia kecil’ ini, juga mendatangkan getaran rasa dan harmoni keindahan dan kebesaran semesta.
Sejak dini, saya juga sudah banyak bersentuhan dengan ekspresi keindahan gubahan manusia seperti bidang seni musik dan pencak silat. Tapi saya dicekal oleh keluarga saat memutuskan menjadi pemusik. Kata keluarga, “jangan jadi buaya keroncong”. Ha ha haaa…

Sebetulnya ayah saya bisa bermain pelbagai peralatan musik, tetapi kena cekal juga, maka lebih banyak melihat yang indah saja, termasuk darmawisata ke pelbagai tempat yang memikat dan menjadi terpikat di Jawa dan Bali, termasuk melihat-lihat candi pada akhir 59-an, dan  menikmati museum le Mayeur di Bali pada tahun 63-an. Semua itu sangat memdidik pada eksposure keindahan alam, budaya, dan arsitektur.

Ada hal-hal kecil yang sangat menyenangkan saya. Pada tahun 1955-an, saya sering ikut bude berbelanja ke toko Kabinangkitan dan Kelom Geulis Keng. Saya bisa melihat-lihat wayang golek dan kelom geulis. Di toko itu, kami bertemu dengan teman keluarga, yaitu pencipta lagu anak-anak Ibu Sud (Ny Bintang Sudibyo). Oleh Ibu Sud saya diberi hadiah buku kumpulan nyanyian anak-anak berjudul Burung Ketilang.

Salah satu toko tempat keluarga kami berbelanja adalah Tan Tek Liong. Dia  tukang daging sapi eceran. Tapi dia juga terima order lukisan potret mimesis yang dibuat dengan menggunakan skala. Sesekali dia juga membuat merk atau logo, membuat sablon di baju, membuat frame photo dari tripleks, dan frame itu diberi gambar bunga anggrek dan lukisan seronok. Dia juga melakukan inovasi patung dari lilin dan gips, lalu membuat patung dari cetakan gips untuk salib, cruxified, patung Budha serta kelak membuat Hok Lo Siu (tiga figur dewa) dan renovasi di kelenteng Bandung.

Lalu?
Pada tahun 1959, saya membeli buku diary dari toko Malabar. Buku diary ini membuat saya bersinggungan dengan karya Dullah dan S Soedjojono, sebab di dalamnya terdapat repro lukisan mereka. Lukisan Soedjojono pada diary itu berjudul Gerilya.

Kenalan ayah saya di Braga , toko Dragon dan Toko Tatarah, menjual banyak lukisan realis berobjek pemandangan dan gadis periangan. Lalu di belokan Braga dan Tamblong, di kaki lima toko Sukada, dipajang lukisan hutan bambu maupun babakan untuk turis. Namun yang paling saya senang toko di depan Hotel Homan yang menjual onderdil mobil sekaligus memajang lukisan-lukisan yang besar, kelak toko ini jadi kantor Harian Pikiran Rakyat.
Pelbagai lukisan dari China juga saya lihat. Saya suka lukisan Chi Pai Hsih yang berobjek kembang teleng, yang mempunyai teknik tinggi, sangat estetis, ada content dan misinya seperti dalam puisi. Karya itu dalam bentuk reprint/reproduksi, saya minta dari ayah saya untuk rumah di Rawamangun pada tahun 1974. Awal rahun 70-an, kami juga mendapatkan lukisan Hendra Gunawan yang sedang dipenjarakan di Kebon Waru. Lukisan itu kami dapatkan melalui sipir penjara.

Bagaimana melihat keindahan?
Saya kan lahir dan besar di Bandung, bagian dari Tatar Priangan yang eksotik, yang kata psikolog Belanda MAW Brower, diciptakan Tuhan sambil tersenyum. Keindahan alam Priangan itu telah memberikan rasa estetik pada jiwa saya.

Saya melihat kabut dan embun yang melindap saat diterpa cahaya matahari. Adegan itu sangat puitis, dan selalu saya ingin menyaksikan dan menyaksikannya lagi. Harus diakui, alam Jawa dan Bali yang indah, dengan sawah yang menghampar, kebun teh, kebun kina, pelbagai situ (telaga –red), termasuk pelbagai candi Budha dan Hindu, memberikan makna terpikat dan terikat dengan keindahan dan pengalaman yang mendalam, dan tentu melatih sebagian panca indera dalam menikmati keterpikatan di atas, membuat saya sedikit demi sedikit bisa lebih peka dalam mengapresiasi keindahan serta rasa ingin mengulang pengalaman yang dahsyat tersebut. Tentu guide local dan buku referensi menjadi bagian dari pembelajaran saya dalam memahamki keindahan.

Yang lebih spesifik dalam menikmati lukisan?
Pada saat mulai bekerja di tahun 1972, restoran Oasis menjadi tempat favorit saya. Bukan karena hanya makanannya yang memang enak, tapi juga pada dindingnya ada koleksi lukisan Hendra Gunawan dan pelbagai benda seni dari topeng Sunda, Bali, patung Asmat maupun Kalimantan. Itulah daya tarik utama restoran Oasis, yang membuat saya tambah mengerti soal anatomi, proporsi, keseimbangan, dan keutuhan dalam lukisan Hendra.
Di restoran itu, lukisan Hendra banyak temanya, salah satunya yang bertema dan diberi judul Gerilya yang mencerminkan kepahlawanan dan upaya mempertahankan republik dengan luapan emosi Hendra yang memang terlibat pada periode tersebut.

Saat persiapan untuk berumah tangga, kami menyiapkan perabotan. Isteri saya senang dengan furnitur jaman art deco, van der Pohl campur dengan peranakan furnitures. Furnitur mengalahkan lukisan. Mengoleksi lukisan akhirnya jadi nomor buncit. Tetapi berkat adanya Taman Ismail Marzuki yang dilengkapi dengan gedung Planetarium pada awal 70-an, yang mulai rutin menggelar pementasan drama dan tari atau pameran lukisan, maka seringkali saya bawa famili dari Bandung ke Planetarium TIM, dan eh sering kesasar ke Galeri Cipta di TIM itum sehingga kami tetap dapat menikmati lukisan yang dipajang tanpa bayar karcis lagi. Dari sini, keluarga saya pun berkenalan dengan karya seni, tak terbatas lukisan. Akhirnya, isteri saya pun jadi mulai menyukai lukisan. Bahkan kini, saya akui, isteri saya ternyata bisa memilih lukisan yang jauh lebih bagus menurut selera kami.

Sebagai keluarga muda, tentu yang menjadi prioritas kebutuhan asuransi untuk anak sekolah. Jadi, kalau kebutuhan anak sudah agak aman, maka saya bersama isteri bisa belanja pelbagai barang seni yang bisa menjadi dekorasi di rumah, termasuk martavan (gentong China), dan terutama patung Bali.
Kami juga mulai rajin melakukan studi banding untuk bisa memahami karya seni. Kami kunjungi museum wayang, museum kramik, museum tekstil maupun museum nasional, dan membaca publikasinya. Sering juga kami melihat Gramedia Art di jalan Gajah Mada, Pintu Air, dan Sultan Hassanuddin pada pertengahan 70-an.

Dengan sering kunjung-kunjungan itu, buku seni yang tidak banyak bisa mulai didapat, termasuk buku koleksi lukisan dan patung milik Bung Karno yang saya sudah baca sejak tahun 63-an. Pada saat itu, museum Adam Malik, Istana Bogor dan Cipanas yang penuh koleksi barang seni, mulai dibuka dan boleh dikunjungi oleh umum.

Tidak hanya mengoleksi lukisan to?
Tentu barang cendera mata kecil dari sendok, boneka maupun ceret, merupakan pelengkap untuk dekorasi. Pada tahun 1974 , pilihan koleksi bersama isteri adalah keramik indah multi fungsi serta snuff bottle dari China dan Taiwan. Tahun 1978, bisa beli barang seni dari Jepang serta lebih ngerti soal Nabeshima, Kurita, dan porselen indah lainnya.

Menarik juga menjadikan buku sebagai guide untuk mengoleksi karya seni…
Tentulah kita harus membaca supaya tahu. Mengoleksi karya seni itu bukan karena mendengar dari orang, karya si ini bagus, lalu beli saja. Saya dan keluarga ingin mengoleksi sesuai dengan minat subjektif kami. Pada pertengahan 1970-an, say abaca buku The Begenner Guide to Art. Saya juga baca dan lihat beberapa buku lain. Buku Sejarah Seni Rupa Indonesia terbitan PDK tahun 1979, serta Pameran Koleksi dari Yayasan Bung Karno tahun 1979, memperkaya referensi kami.

Ada referensi lain?
Pada Agustus 1981, saya bersama isteri sepanjang 1 bulan berkelana ke pelbagai Negara Eropa, selain untukk excursion, maka semua museum penting di Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, Austria, Hongaria kami kunjungi, dan semuanya memberikan inspirasi yang medalam, memberi informasi tentang jaman gothic, renaissance, barrock, rokoko, romantic, hingga abad ke-18.

Kami sangat beruntung waktu itu, karena inbound Europe guide sangat rajin menyiapkan makalah, tentang sejarah tiap negara dan kebudayaannya. Dia mahasiswi jurusan seni, jadi bisa leisure sambil menimba ilmu. Tentu selama perjalanan di Eropa bisa beli beberapa reproduksi lukisan Rembrandt dan Van Gogh, dan berbagai karya seni dari Murano (Crystal) pilihan isteri, serta sebagian dari Paris maupun Lourdes, yang bisa menjadi dekor di rumah.
Perjalanan bisnis ke Jepang dan sedikit waktu untuk leisure, membuka mata di mana museum perusahaan dan department store di sana ternyata bisa menjadi studi banding bagi para pengunjung, di mana pada awal 80-an banyak perusahaan di Jepang banyak membeli lukisan impressionis seperti karya Monet, Manet, Cezegna, Mark Chagall, Cisaro, dan karya Juan de Miro, Salvador Dali, Pablo Picasso. Harga lukisan di Jepang dan repro-nya bisa berlipat kali lebih mahal dibandingkan di Indonesia.

Awal 1980-an, karena teman dan rekan sekerja selalu mendorong supaya menyisihkan anggaran untuk membeli lukisan, baik old master maupun yang popular`saat itu, serta mengajak hunting bersama sambil mendiskusikan dan memutuskan untuk membeli lukisan, maka makin lama saya merasa semakin dapat melihat kedalaman sebuah lukisan dengan cepat.

Ketika saya memiliki waktu luang  yang cukup, bersama isteri dan anggota keluarga, kami pakai untuk mengunjungi, mencari, dan membeli lukisan yang disenangi anggota keluarga. Jenisnya dari mulai yang pemandangan alam, alam benda, tarian setempat, baik di Jakarta(TIM, Mitra Lingkar Budaya, maupun Balai Budaya).

Kami pergi ke Bandung, Yogya, Surabaya maupun Bali, kami selalu berkunjung ke studio pelukis, ke art dealer maupun galeri, atau mengunjungi pameran, atau perhelatan kesenian lainnya. Hasil dari kunjungan itu, salah satu anak saya senang ke arah ekspresionisme. Kelak ketiga anak saya di perguruan tinggi mengambil art one a one (101) sebagai salah satu electif crediet-nya, agar mengerti dasar-dasar seni yang penting, agar otak kanannya bisa menyeimbangkan beban otak kirinya yang makin sering dipakai di dunia yang penuh dengan pertimbangan rasional.
Kesempatan lainnya, kami melihat MoMa (Museum of Modern Art) di New York, San Francisco, atau melihat museum Guggenheim di Eropa dan Amerika, tentu menambah wawasan kami.

Hal itu penting kami lakukan, karena keluarga pun akhirnya bisa mendiskusikan pengalaman dan perasaan masing-masing dalam mengapresiasi suatu karya seni. Juga menjadi masukan sebelum membeli. Terutama isteri saya mempunyai selera dan intuisi yang lebih artistik. Jangan lupa, untuk mengoleksi lukisan perlu rasa dan selera yang lebih, sebab lukisan itu berbeda dengan patung yang tiga dimensi dan bisa dilihat dan diraba. Lukisan hanya mengandalkan indra penglihatan dan sixth sense, menjadi suatu imaji atau wujud yang bermakna sekaligus harmoni yang memuaskan dahaga jiwa.

Waktu mau mengoleksi lukisan, siapa yang memutuskan?
Ya itu tadi saya bilang, hasil diskusi keluarga. Sesekali saya beli lukisan tanpa konsultasi dengan keluarga untuk surprise. Tapi saya akui, taste dan sense istri saya lebih tajam. Waktu mengoleksi lukisan Widayat, wah saya senangnya bukan main. Karena pilihannya bagus semua. Anak saya terkadang yang memutuskan mau ngambil karya seseorang. Salah satu anak saya, waktu itu dia masih kecil, tergila-gila pada salah satu lukisan impresionis. Dia gelisah terus. Baru reda setelah dibelikan kesukaannya.

Keluarga benar-benar memahami lukisan ya?
Membeli karya seni memang harus memakai pengetahuan, referesi, dan penglihatan yang jeli. Karya seni memang ada kaitan dengan taste juga. Dan yang namanya taste dalam seni lukis kan dilihat dengan mata. Jadi, belilah karya seni lukis dengan mata, jangan dengan kuping. Kalau membeli hanya mengandalkan kuping, misalnya harga lukisan si anu bakal naik, lalu diborong, wah itu repot.

Konon saya pernah dengar, ada orang yang punya banyak duit, mendengar lukisan si anu harganya bakal naik, lalu dia mendatangi pelukis itu, dan pesan untuk melukis sampai 24 jam dalam sehari. Pelukis itu bisa memproduksi cepat dan banyak, dan dipesan sampai satu truck. Jika berkarya seperti itu, namanya kerajinan. Kalau kesenian sudah menjadi kerajinan, itu namanya komoditas. Pelukis itu memang cepat jadi bintang, tapi dengan cepat pula menjadi redup. Pergerakannya itu seperti komet jatuh, melesat sesat, langsung hilang. Kasihan kan si pelukis harus semedi 10 tahun untuk menunggu kebangkitannya lagi? Seniman itu tidak bisa diminta setoran atau dikejar argo. Senimannya juga harus berpikir, jangan mudah dipaksa. Kasarnya, jangan mau belum melukis saja sudah dibayar.

Lukisan pertama yang dibeli, masih ingat?
Lukisan pertama yang dibeli tahun 1970 ex-Tjandra yang biasa untuk tourist. Lukisan ini masih ada sekalipun tidak diregistrasi, nasibnya sama dengan lukisan Nana Wigena, tempat saya apprenticeship bikin hutan bambu. Saya tidak lupa, koleksi lukisan Bung Karno yang dipamerkan di TIM sekitar tahun 1979, saya tonton. Pada saat koleksi lukisan Bung Karno pertama kali dibukukan, saya sudah bisa menikmati di rumah bude, di Bogor. Kelak 40 tahun kemudian, buku itu dihadiahkan ke saya. Jadi sekarang saya punya dua buku koleksi Bung Karno.

Kesimpulannya dengan semua pengalaman itu?
Dari paparan di atas, saya cukup beruntung karena waktu SD tahun 50-an, di kala belum ada program keseniaan yang mendalam, terbatas hanya menyanyi dan menggambar, serta ikut terlibat drama menjelang pesta Natal, maka saya menerima imbuhan dari orang tua dan keluarga serta lingkungan. Imbuhan itu bisa menuntun melatih indera mata dan mengerti di samping nilai pakai dan guna dari sesuatu barang, maka ada nilai estetis yang bisa memuaskan dahaga hati dan jiwa. Itulah yang membekali saya dalam menyeleksi karya seni.

Sekarang ini banyak orang yang memiliki duit tebal dan mulai membeli lukisan….
Saya dengar itu sayup-sayup. Kita tahu mereka memang punya uang, tapi apa ia memiliki pengetahuan seni? Kalau dia tidak mengerti, tapi pura-pura mengerti, apalagi demi gengsi, nanti akan merasakan sendiri setelah lebih berpengalaman, ternyata karya yang dibelinya itu tidak berkualitas. Selama karya itu bersama dia, ya dia berhadapan dengan karya yang tidak memuaskannya, malahan bisa jadi benci terhadap koleksinya. Namun ketika mau dijual untuk diganti yang lain, ternyata karya itu sudah jadi junk. Repot kan?

Saya pikir, memang harus ada lembaga yang sering membahas pelukis dan karyanya. Misalnya Galeri Nasional mengadakan pendidikan apresiasi dan seminar membahas pelukis dan karyanya. Dibuatlah modul pembelajarannya. Pelajaran itu dimulai dari dasar, misalnya memahami elemen estetik, prinsip desain, cara melihat dan mengerti lukisan, serta memahami filsafat estetika menurut Plato atau Aristoteles, atau pemikir lainnya.

Kebanyakan galeri di kita ini ramai pengunjungnya di malam pembukaan. Esoknya langsung sepi. Ini bagaimana?
Memang harus kembali pada pendidikan. Dasar apresiasi itu harus dari pendidikan dan lingkungan. Memang biayanya mahal. Tetapi pemerintah harus semakin memperhatikan infrastruktur pendidikan apresiasi seni seperti membangun museum yang lebih representatif dan terawat, dengan program edukasi yang berkelanjutan, hingga dengan banyaknya orang yang datang dan terdidik dalam berapresiasi, kita harapkan dapat menghidupkan museum dan galeri.

Namun kita juga mesti realistis, secara kemakmuran masyarakat kita kan masih koreh-koreh cok (gali lubang tutup lubang). Prioritas masyarakat masih memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tertier. Jangankan pergi ke galeri yang ruangannya mewah, berpikir makan saja masih suah. Ini realita. Tetapi kita tidak boleh meninggalkan apresiasi terhadap kesenian, sebab kita yakini kesenian itu menyimpan ruang untuk melakukan enlightenment (pencerahan) peradaban. Berbagai arah dan berbagai pihak harus ikut bertanggungjawab. | ***

 

Tulisan ini pernah dipublikasi di majalah arti edisi pertama, juni 2008

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3