Oleh Dr. Wawan Gunawan, S,Sn.MM
Cacatan krusial dari Diskusi
Budaya "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara" yang digelar
pada Jumat, 24 April 2026, di Panggung Utama, Alun-Alun Kota Serang, Banten,
dalam dalam rangkaian kegiatan Seba Baduy 2026, diselenggarakan oleh Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, dan Panitia Seba Baduy 2026.
Krisis lingkungan abad
ke-21 sudah nyata di depan mata dan sehari-hari, semisal suhu bumi meningkat
radikal, keanekaragaman hayati menyusut, dan sumber daya air serta pangan
berada dalam tekanan krisis amat serius. Dunia menghadapi paradoks besar, di
saat teknologi manusia mencapai puncaknya, kemampuan itu justru belum mampu
menyelamatkan planet yang menjadi tempat hidupnya sendiri.
Di titik inilah kita
perlu mengajukan pertanyaan mendasar, “apakah krisis ini benar-benar soal
keterbatasan teknologi, atau justru kegagalan cara pandang manusia terhadap
alam?”
Krisis Cara Pandang
Selama berabad-abad,
paradigma pembangunan modern menempatkan manusia sebagai pusat
(antroposentrisme), sementara alam diposisikan sebagai objek yang dapat dieksplorasi
seluas-luasnya dan dieksploitasi sepuas-puasnya. Relasi yang timpang ini
melahirkan model pembangunan ekstraktif, yang mengambil sebanyak mungkin dari
alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan jangka panjang dengan mengembalikan
sesuatu kepada alama secara adil.
Akibatnya, kita
menyaksikan fenomena yang saling terkait, yaitu perubahan iklim radikal yang kian
ekstrem, hilangnya spesies dalam skala masif, hingga krisis pangan dan air di
berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut tampak sebagai realitas ancaman yang
tengah berlangsung.
Namun menariknya, di
tengah kegagalan model global tersebut, dunia mulai melirik kembali
praktik-praktik lokal yang selama ini dianggap “tradisional” atau bahkan
“tertinggal”, atau yang pernah diramalkan oleh John Nasibit sebagai melalui
buku Global Paradox (1994): Semakin kita menjadi bagian dari ekonomi global,
semakin kita memegang teguh identitas lokal, bahasa, dan budaya kita.
Masyarakat Adat Adalah
Penjaga yang Terlupakan
Berbagai laporan global menunjukkan
fakta penting bahwa wilayah yang dikelola oleh masyarakat adat, justru menjadi
benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia.
Pernyataan tersebut bukan
kebetulan. Masyarakat adat memang tidak memandang alam sebagai komoditas,
melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Mereka berbicara
tentang keberlanjutan, sekaligus mereka menjalankannya dalam praktik
sehari-hari.
Di Indonesia, salah satu
contoh paling nyata dari hal di atas adalah masyarakat Baduy di Kabupaten
Lebak, Banten.
Baduy Beraksi Secara Lokal
Berdampak Secara Universal
Masyarakat Baduy mungkin
tampak sederhana dalam gaya hidupnya. Mereka menolak modernisasi dalam bentuk
tertentu, menjaga tradisi leluhur, dan hidup dalam keterbatasan yang disengaja.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan sistem pengetahuan ekologis yang
sangat maju. Mereka menyatu dengan alama, karena itu, mereka lebih memahami
alam daripada orang-orang yang merusak alam.
Filosofi hidup mereka
terangkum dalam ungkapan “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat”, yang artinya menjaga
titipan, merawat dunia. Slogan itu, bagi masyarakat Baduy, menjadi mandat moral
yang mengikat seluruh aspek kehidupan.
Dalam perspektif global,
filosofi tersebut sejalan dengan konsep “intergenerational responsibility” atau
tanggung jawab lintas generasi. Bahwa bumi bukan milik kita semata, tapi titipan
yang harus dijaga dan diteruskan untuk masa depan.
Tri Tangtu Buana
sebagai Konsep Kosmologi Ekologis
Salah satu konsep kunci
dalam kehidupan Baduy adalah Tri Tangtu Buana, yang membagi kehidupan ke dalam
tiga lapisan, yaitu spiritual, manusia, dan alam. Ketiganya saling terkait dan
mengikat dalam keseimbangan yang dinamis.
Jika salah satu
terganggu, maka keseluruhan sistem akan terdampak. Ini adalah bentuk kosmologi
ekologis yang melampaui pendekatan ilmiah modern, yang sering kali bersifat
sektoral dan terfragmentasi secara departemental.
Pendekatan Baduy justru bersifat
holistik, mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam satu
kesatuan yang padu dan berimbal-balik.
Pikukuh Adalah Etika
yang Dihidupi
Dalam kehidupan masyarakat
Baduy, terdapat aturan adat yang disebut pikukuh. Berbeda dengan regulasi
formal yang bersifat eksternal, pikukuh adalah etika yang diinternalisasi. Pikukuh
harus digenggam erat dan mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, yang
mengandung prasyarat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Misalnya, larangan
merusak hutan, penggunaan bahan kimia dalam pertanian, hingga pembatasan
konsumsi. Semua itu adalah aturan sekaligus bagian dari kesadaran kolektif.
Konsep Pikukuh diperkuat
oleh Papagon Karuhun (pedoman leluhur) dan Rawayan Jati (jalan kebenaran), yang
memastikan bahwa setiap tindakan manusia selalu berada dalam koridor
keseimbangan.
Praktik Nyata
Menjalankan Hidup Rendah Karbon
Apa yang dilakukan
masyarakat Baduy hari ini, sejatinya adalah praktik hidup rendah karbon yang
kini gencar dikampanyekan secara global. Mereka bertani tanpa bahan kimia,
menjaga hutan sebagai ruang sakral, dan hidup dalam prinsip “cukup”.
Dalam dunia yang
didorong oleh konsumsi berlebih, prinsip ini menjadi sangat relevan. Baduy
menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan akumulasi materi, tapi
juga menjelma dalam keseimbangan hidup.
Ekowisata di antara
Peluang dan Ancaman
Dalam konteks global,
ekowisata berkembang pesat sebagai alternatif pariwisata berkelanjutan. Namun
tanpa etika yang kuat, ekowisata dapat berubah menjadi bentuk baru dari eksploitasi.
Apalagi jika pengunjung tidak bisa mengikuti aturan yang diberlakukan oleh
penyelenggara, dan penyelenggara tidak Pikukuh memegang mandat yang diberikan
kepadanya.
Misalnya di Baduy,
wisata tidak diposisikan sebagai konsumsi, tap jadi jalan untuk pembelajaran.
Pengunjung diharapkan menghormati aturan adat, belajar budaya menjaga perilaku,
dan memahami nilai-nilai yang hidup di dalamnya.
Pendekatan ini
menghadirkan standar etika baru, yaitu bahwa interaksi dengan komunitas adat
harus dilandasi rasa hormat, bukan sekadar keinginan untuk “melihat” atau
“mengalami” apalagi mengganggu dan merusaknya.
Namun demikian,
ekowisata juga membawa risiko sosial-ekonomi. Jika tidak dikelola dengan bijak,
tentunya dapat menggerus nilai budaya dan mengubah orientasi hidup masyarakat.
Karena itu, keseimbangan antara manfaat ekonomi dan perlindungan budaya menjadi
krusial dan harus dilaksanakan.
Kritik dan Jalan Baru
Pembangunan
Dari perspektif kritis,
model pembangunan modern perlu direvisi secara mendasar. Bukan hanya dari sisi
teknis, tapi juga dari nilai yang mendasarinya. Data dan teknologi tetap
penting, tetapi tanpa etika, keduanya tidak akan cukup untuk mengatasi masalah.
Pendekatan ekologi
berbasis adat menawarkan alternatif, yaitu pembangunan yang berakar pada nilai,
menghormati alam, dan menjaga keseimbangan. Hal ini harus dipandang sebagai
sarana pembelajaran untuk masa depan, dan bukan hendak bernostalgia ke masa
silam.
Rekomendasi Strategis
Untuk mengintegrasikan
kearifan lokal dalam agenda pembangunan nasional dan global, beberapa langkah
strategis perlu dilakukan, antara lain:
1.
Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat
sebagai subjek utama pengelolaan lingkungan.
2.
Integrasi pengetahuan lokal dalam kebijakan
publik, khususnya di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
3.
Kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah,
akademisi, dan komunitas adat.
4.
Penguatan pendidikan ekologis, yang tidak hanya
berbasis sains, tetapi juga nilai dan etika.
Kebaruan dalam Integrasi
Nilai dan Praktik
Kebaruan dari pendekatan
ini terletak pada integrasi antara spiritualitas, budaya, dan ekologi. Selama
ini, ketiganya sering dipisahkan dalam kerangka berpikir modern.
Baduy menunjukkan dan
memberi contoh bahwa ketiganya justru harus berjalan bersama.
Terlihat semata hanya aksi
lokal, namun dampaknya bersifat global. Dalam dunia yang mencari solusi atas
krisis ekologis, pendekatan ini menawarkan perspektif yang lebih utuh dan
berkelanjutan.
Penutup
Hari ini, dunia sibuk
merumuskan konsep keberlanjutan. Namun di sudut Nusantara, masyarakat Baduy
telah lama menjadikannya sebagai cara hidup.
Mungkin, masa depan
tidak terletak pada apa yang berhasil kita ciptakan melalui teknologi, tapi pada
apa yang mampu kita jaga dengan kebijaksanaan.
Ketika dunia berbicara
tentang keberlanjutan sebagai tujuan, Baduy telah menjadikan harapan tersebut sebagai
jalan hidup.
Dan di sanalah,
barangkali, kita menemukan arah baru bagi peradaban.*)
*) Dr. Wawan Gunawan,
S.Sn., M.M.
Dosen Pascasarjana
Politeknik Pariwisata NHI Bandung


0 Response to "Prototipe Kearifan Lokal Baduy untuk Pilar Masa Depan Nusantara"
Posting Komentar