Bandung Barat, 6 Mei 2026 (SituSeni): — Inovasi berbasis lingkungan terus didorong guna mewujudkan destinasi pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing melalui penguatan ekonomi sirkular serta pengelolaan limbah berkelanjutan. Menanggapi isu global terkait sampah, Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung menunjukkan komitmennya sebagai institusi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Hal tersebut diwujudkan oleh mahasiswa Program Studi
Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata melalui kegiatan "Diseminasi
Pelatihan Pertanian Sirkular Berbasis Maggot" di Desa Wisata Kertawangi,
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini merupakan implementasi
nyata dari mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM yang diterapkan
langsung di tengah masyarakat desa.
Kolaborasi Akademisi dan Praktisi
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Kertawangi ini diinisiasi oleh tim mahasiswa Pascasarjana yang terdiri dari Dede Rusnadi, Minati Putri Larasati, M. Rizki Fauzy, dan Rian Andani. Mereka didampingi oleh dosen pengampu, Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M., dan Dr. Sukmadi, S.E., M.M. Program ini merupakan bentuk kontribusi akademis dalam mendukung pengembangan desa wisata berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang aplikatif.
Pelaksanaan kegiatan ini juga didukung oleh PT Biru Inovasi
Teknologi dan CV Samudra Jala Sandjaya sebagai mitra sponsor yang memiliki visi
serupa dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Solusi Limbah Bernilai Ekonomi
Pelatihan ini menghadirkan narasumber praktisi, Eduard,
serta dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, drg. Chanifah
Listyarini, M.H.M. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa budidaya maggot merupakan
solusi efektif untuk mereduksi volume sampah organik rumah tangga sekaligus
menciptakan nilai ekonomi baru, yakni berupa pakan ternak berprotein tinggi dan
pupuk organik.
Kepala Desa Kertawangi, Yanto Bin Surya, menyambut positif
kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta ini. Ia menilai
program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan warganya dalam menjawab
persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha produktif.
"Pelatihan ini menjadi langkah nyata untuk mendorong
masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi, kreatif dalam memanfaatkan
limbah, serta semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan desa," ungkap
Yanto Bin Surya.
Keberlanjutan Program
Agar program tidak berhenti pada tahap pelatihan, Dr.
Sukmadi, S.E., M.M. dan Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M. memberikan arahan
strategis untuk memastikan program ini bertransformasi menjadi model
pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat
posisi Desa Wisata Kertawangi sebagai destinasi wisata berbasis edukasi
lingkungan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya
memahami konsep pertanian sirkular secara teoretis, tetapi mampu
mengimplementasikannya secara mandiri. Budidaya maggot menjadi solusi konkret
untuk menciptakan sistem pengelolaan limbah terpadu yang mampu menekan
pencemaran lingkungan sekaligus menghadirkan manfaat finansial bagi warga.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha,
komunitas, dan media dalam kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas
sektor adalah kunci utama dalam melahirkan inovasi untuk pembangunan desa
wisata yang mandiri dan berdaya saing. (Red)


0 Response to " Mahasiswa Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung Dorong Ekonomi Sirkular di Desa Wisata Kertawangi Melalui Budidaya Maggot"
Posting Komentar