Pilihan Editor

Sang Pendidik Dalam Untaian Syair

"Sang Pendidik dalam Untaian Syair" adalah sebuah karya yang menghimpun puisi-puisi yang menggambarkan dedikasi dan peran penting ...

Antologi Puisi Orang Tangerang




PUJI
syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya ini dapat hadir sebagai bagian dari ikhtiar sederhana untuk merawat sastra dan kebudayaan di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Sastra bukan sekadar rangkaian kata yang disusun menjadi puisi, cerpen, novel, atau karya tulis lainnya. Sastra adalah cermin perjalanan manusia. Di dalamnya tersimpan perasaan, gagasan, kegelisahan, harapan, bahkan sejarah sebuah bangsa. Melalui sastra, kita belajar memahami kehidupan dengan lebih dalam, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, sekali-gus mengenali jati diri kita sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi saat ini, sastra menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Generasi muda tumbuh dalam ruang digital yang serba cepat. Bahasa sering kali dipersingkat, kata-kata berganti menjadi simbol, dan komunikasi berlangsung dalam hitungan detik. Perubahan tersebut tentu tidak harus kita lawan, tetapi perlu kita sikapi dengan bijaksana. Kemajuan zaman seharusnya tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati keindahan bahasa, membaca dengan penuh penghayatan, serta menulis dengan kesadaran bahwa setiap kata memiliki makna.

Karena itu, sastra harus terus dijaga dan dilestarikan. Menjaga sastra berarti menjaga ingatan dan identitas kebudayaan kita. Melestarikan sastra berarti memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenal nilai-nilai kehidupan yang diwariskan melalui bahasa dan karya-karya para pendahulu.

Dalam konteks kepemudaan, saya berharap para pemuda Kota Tangerang tidak hanya menjadi penikmat perkembangan zaman, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan karya. Saya mengajak para pemuda untuk tidak ragu menggeluti sastra. Mulailah dari hal sederhana: membaca buku, menulis puisi, membuat cerita pendek, mendokumentasikan kisah masyarakat, atau sekadar menuangkan pengalaman dan kegelisahan dalam bentuk tulisan.

Bagi saya, pemuda yang menulis sesungguhnya sedang membangun sebuah peradaban kecil. Apa yang ditulis hari ini mungkin belum terasa manfaatnya sekarang, tetapi suatu hari kelak dapat menjadi catatan tentang bagaimana sebuah generasi berpikir, merasa, dan melihat zamannya.

Saya juga menyampaikan apresiasi dan harapan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang agar ke depan kegiatan pentas seni seperti Lesehan Sastra DPD KNPI Kota Tangerang ini terus ada, dan semakin aktif membuka ruang bagi para pelaku sastra dan generasi muda. Ruang baca, lomba penulisan, panggung puisi, diskusi kebudayaan, hingga program digitalisasi karya sastra dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan kreativitas anak muda dengan kekayaan budaya daerah.

Akhirnya, melalui buku Antologi Puisi ini saya berharap sastra tidak berhenti sebagai karya yang selesai dibaca, tetapi menjadi percikan yang menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa, kebudayaan, dan tanah air. Mari kita dorong anak-anak muda untuk membaca, menulis, berkarya, dan berani menyampaikan gagasan melalui bahasa yang baik.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga ingatan, bahasa, dan kebudayaannya.

Mari terus merawat sastra.

Mari terus menjaga Bahasa Indonesia.

Dan mari memberi ruang kepada pemuda untuk berkarya, karena dari tangan merekalah cerita tentang masa depan akan dituliskan.

Dede Maulana Paisal

Ketua DPD KNPI Kota Tangerang



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antologi Puisi Orang Tangerang"

Posting Komentar