BERAU DALAM LARIK-LARIK PUITIK
Muhammad Fauzan Adhim, S.Pd.
Editor, Karyani Tri Tialani
Tata Letak Isi, Reza Firdaus Tsani
Desain Kafer, Doddi Ahmad Fauji
Cetakan 1, Februari 2026
ISBN,
Penerbit
SituSeni
Jl. Peta, Gg. Sukamulya Dalam II No. 23
RT 06 RW 09, Kel. Sukaasih
Kec. Bojongloa Kaler, Kota Bandung
40231
siplah.blibli.com toko situseni
Kata
Pengantar Penerbit
Antologi ini menggambarkan, sang Penulis
adalah pengembara, dan memang kenyataannya begitu, dari Kabupaten Ciamis, Jawa
Barat ia mendapat tugas sebagai ASN di Kab. Berau, Kalimatan Timur. Puisinya
yang pertama dalam antologi ini, tampak berupaya menangkap esensi
"kediaman" bukan sebagai titik koordinat di peta, melainkan sebagai
sebuah proses emosional untuk menggambarkan persentuhannya dengan alam Berau
yang kaya dengan ragam hayati serta artefak kebudayaan.
Penulis
juga berhasil memanfaatkan unsur metafora yang membumi dan filosofis. Puisi paling
depan, tidak terjebak dalam diksi yang terlalu rumit, namun tiap barisnya
memiliki kedalaman. Penggambaran Berau melalui kontras antara "Hutan yang
tidak ramah tapi tidak mengusir" serta "Laut yang mengajarkan arti
lapang" menunjukkan pengamatan batin yang tajam. Penulis tidak hanya
melihat pemandangan, tapi juga merasakan karakter dari alam tersebut.
Metafora
tersebut selaras dengan penggunaan narasi transisi yang Menyentuh, di mana baris
"Sebagai pejalan yang sedang belajar menetap" adalah inti
emosional yang sangat kuat. Ini mewakili perasaan banyak orang yang datang ke
tempat baru: ada keraguan, ada harapan yang belum bernama, dan ada kerendahan
hati untuk tidak menguasai, melainkan hanya ingin tumbuh perlahan.
Judul
‘Berau, Ruang di antara Datang dan Pulang, bisa memberikan nuansa melankolis
sekaligus puitis. Ia memosisikan Berau sebagai ruang antara—sebuah tempat
persinggahan yang akhirnya menjadi bagian dari identitas diri. Ini sangat
relevan untuk sebuah antologi yang merayakan keberagaman sudut pandang tentang
satu daerah.
Puisi
ini ditutup dengan larik dan metafora yang elagan. Bait terakhir memberikan
resolusi yang indah. Penulis tidak ingin meninggalkan jejak fisik atau
kepemilikan, melainkan hanya ingin namanya tertinggal di udara. Ini adalah
bentuk penghormatan tertinggi seorang pendatang kepada tanah yang telah
memberinya ketenangan.
Singkatnyam
puisi ini sangat kontemplatif. Ia berhasil mengubah perspektif tentang Berau
dari sekadar destinasi geografis menjadi ruang pertumbuhan spiritual.
Adalah
pilihan yang tepat ketika puisi ini dijadikan pintu gerbang untuk memasuki
puisi-puisi lainnya yang bertutur tentang sebuah etnis nun di Timur Kalimantan
itu, yang berhadapan dengan selat dan laut nan luas.
Bandung, 2026
Pemred SituSeni,
Doddi Ahmad Fauji

0 Response to "BERAU DALAM LARIK-LARIK PUITIK"
Posting Komentar