Pilihan Editor

Sang Pendidik Dalam Untaian Syair

"Sang Pendidik dalam Untaian Syair" adalah sebuah karya yang menghimpun puisi-puisi yang menggambarkan dedikasi dan peran penting ...

Janji Kita di Bawah Langit Senja - Kumpulan Cerita - Alfina Rusdiana

 


Janji Kita di Bawah Langit Senja

Kumpulan Cerita

 

Penulis               : Alfina Rusdiana

Editor                 : Santi Werdiningsih

Tata Letak Isi      : SituSeniArt

Desain Kafer      : Doddi Ahmad Fauji

Cetakan Pertama : 2026

ISBN                  :

 

Penerbit

SituSeni

Jl. Peta, KP Sukamulya Dalam III No. 23

RT 06 RW 09, Kel. Sukaasih

Kec. Bojongloa Kaler, Kota Bandung

situseni@gmail.com | situseni.com

 


 


KEABADIAN PERSAHABATAN

DALAM DEKAPAN SENJA

PENGANTAR PENERBIT

 

Cerpen "Janji Kita di Bawah Langit Senja" yang menjadi judul buku antologi ini, adalah karya naratif yang sangat menyentuh, berhasil menangkap esensi dari kehilangan, kesetiaan, dan cinta platonis yang murni. Penulis dengan mahir menggunakan metafora alam untuk menggambarkan transisi kehidupan, menjadikan cerita ini bukan sekadar kisah sedih biasa, melainkan sebuah refleksi tentang kekuatan ikatan manusia.

Salah satu aspek paling memukau dari cerpen ini adalah penggunaan nama tokoh ‘Mentari’. Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan simbol vitalitas dan cahaya. Penulis dengan cerdas mengontraskan sosok Mentari yang biasanya "menyinari" hari-hari Vanesa dengan kondisinya yang kini meredup di bangsal rumah sakit.

Penggunaan Senja sebagai latar utama adalah pilihan puitis yang sangat tepat. Senja melambangkan ambang batas antara terang dan gelap, kehidupan dan kematian. Warna oranye, merah, dan ungu yang digambarkan sebagai "lukisan alam yang sempurna" menjadi kontras yang pedih dengan kenyataan pahit yang dihadapi kedua sahabat tersebut. Senja di sini berfungsi ganda: sebagai saksi perpisahan sekaligus sebagai wadah abadi bagi kenangan mereka.

Dialog antara Vanesa dan Mentari dibangun dengan sangat organik dan penuh perasaan. Penulis berhasil menangkap fenomena psikologis denial (penyangkalan) pada tokoh Vanesa dengan sangat baik melalui kalimat: "Aku janji, nanti kita ke sana, Mentari. Kalau kamu udah sembuh...". Hal ini memberikan dimensi kemanusiaan yang nyata; pembaca dapat merasakan betapa beratnya bagi seseorang untuk melepaskan orang yang dicintainya.

Di sisi lain, ketegaran Mentari memberikan efek emosional yang menghujam. Pesannya agar Vanesa tetap mengejar mimpi menciptakan resolusi moral yang kuat—bahwa cinta sejati tidak ingin membelenggu orang yang ditinggalkan, melainkan ingin mereka tetap terbang tinggi.

Penyebutan Kota Samarinda dan keinginan untuk mengunjungi Raja Ampat memberikan jangkar realitas pada cerita ini. Hal ini membuat pembaca merasa bahwa kisah ini terjadi di dunia yang nyata, di sekitar kita. Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata dalam cerita ini, melainkan simbol dari "surga dunia" yang ingin mereka tuju, namun akhirnya harus digantikan dengan "surga" yang lebih kekal bagi Mentari.

Cerita ini memiliki alur yang mengalir dengan ritme yang terjaga. Penulis tidak terburu-buru dalam membangun suasana. Transisi dari momen sentimental di bawah langit senja menuju kabar duka di pagi hari melalui telepon memberikan efek kejut emosional (emotional punch) yang kuat. Kontras antara "pagi yang cerah" dengan kabar kematian yang kelam menekankan bahwa dunia terus berputar meski seseorang baru saja kehilangan dunianya.

Bagian penutup cerpen ini sangat berkesan. Kalimat "Kini aku hanya akan menikmati senja seorang diri yang berisi kenanganku dengan Mentari" mengubah fungsi senja bagi Vanesa. Senja tidak lagi menjadi simbol akhir kehidupan, melainkan sebuah "ruang temu" spiritual di mana janji mereka tetap hidup. Ini adalah pesan tentang resiliensi—bahwa meskipun maut memisahkan fisik, nilai-nilai dan janji yang pernah diucapkan akan tetap abadi.

Penulis cerpen ini memiliki bakat besar dalam mengolah emosi melalui kata-kata yang sederhana namun bermakna dalam. Cerita ini berhasil membuat pembaca ikut merasa terisak bersama Vanesa dan ikut mengagumi ketenangan Mentari. Sebuah karya yang mengingatkan kita semua untuk lebih menghargai setiap detik kebersamaan dengan orang-orang terkasih sebelum "senja" itu benar-benar tiba.

 

Bandung, Desember 26

 

Pemred SituSeni

Doddi Ahmad Fauji

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Janji Kita di Bawah Langit Senja - Kumpulan Cerita - Alfina Rusdiana"

Posting Komentar